Juli 2016

apa itu Material Handling ?


apa itu Material Handling ?


           Pemindahan bahan atau material handling merupakan istilah terjemahan dari material handling
adalah suatu aktivitas yang sangat penting dalam kegiatan produksi dan memiliki kaitan erat dengan perencanaan tata letak fasilitas produksi (Wignjosoebroto, 2000).

      Material Handling Planning Sheet (MHPS) merupakan suatu tabel yang digunakan untuk menghitung biaya penanganan bahan. Disini dilakukan minimasi biaya penanganan bahan tetapi dengan tidak mengabaikan prinsip-prinsip pemindahan bahan, prinsip-prinsip tersebut adalah seluruh aktivitas pemindahan harus direncanakan, mengoptimasi aliran bahan dengan merencanakan sebuah urutan operasi dan pengaturan peralatan, mengurang mengkombinasi dan menghilangkan pergerakan atau peralatan yang tidak diperlukan, memanfaatkan prinsip gravitasi bagi pergerakan bahan jika memungkinkan, meningkatkan jumlah, ukuran dan berat muatan yang dipindahkan, menggunakan peralatan pemindahan yang mekanis dan otomatis, mengurangi waktu non produktif dari peralatan dan tenaga kerja (Apple 1990).

     Material Handling adalah salah satu jenis transportasi (pengangkutan) yang dilakukan dalam perusahaan industri, yang artinya memindahkan bahan baku, barang setengah jadi atau barang jadi dari tempat asal ketempat tujuan yang telah ditetapkan. Pemindahan material dalam hal ini adalah bagaimana cara yang terbaik untuk memindahkan material dari satu tempat proses produksi ketempat proses produksi yang lain. Pada dasarnya kegiatan material handling adalah kegiatan tidak produktif, karena pada kegiatan ini bahan tidaklah mendapat perubahan bentuk atau perubahan nilai, sehingga sebenarnya akan mengurangi kegiatan yang tidak efektif dan mencari ongkos material handling terkecil. Menghilangkan transportasi tidaklah mungkin dilakukan, maka caranya adalah dengan melakukan hand-off, yaitu menekan jumlah ongkos yang digunakan untuk biaya transportasi. Menekan jumlah ongkos transportasi dapat dilakukan dengan cara: menghapus langkah transportasi, mekanisasi atau meminimasi jarak (Unikom, 2011).

     Berikut ada beberapa istilah yang umumnya dijumpai dalam pembahasan mengenai material handling (Mercubuana, 2010). Transport, adalah pemindahan bahan dalam satuan berat (unit load) atau continers melalui suatu lintasan yang jaraknya lebih dari 5 feet atau sekitar 1,5 meter. Transper, adalah pemindahan bahan melalui lintasan yang jaraknya kurang dari 5 feet atau sekitar 1,5 meter. Bulk Material, yaitu baha material yang dalam pemindahan tidak memerlukan bag, barrel, bottle, drum, dan lain-lain. Unit load, manunjukan sejumlah packaged unit tertentu yang bisa di muat dalam skid box, pallets, dan lan-lain. Rehandle, adalah aktivitas penurunan muatan yang ada dalam pallets, box, skid, dan lain-lain (Mercubuana, 2010).

     Pemindahan barang adalah bagian dari sistem industri yang memberi pengaruh tentang hubungan dan kondisi fisik dari bahan atau material produk terhadap proses produksi tanpa adanya perubahan-perubahan akan kondisi atau bentuk material produk itu sendiri. Prinsip didalam menetapkan sistem pemindahan bahan yang optimal adalah konsep “the best handling is no handling at all”. Material handling adalah aliran bahwa yang harus direncanakan dengan secermat-cermatnya sehingga material akan bisa dipindahkan pada saat dan menuju lokasi yang tepat (Binus, 2004).


Kegunaan Material Handling


     Dalam merancang tata letak pabrik, maka aktivitas pemindahan bahan (material handling) merupakan salah satu faktor yang cukup penting untuk diperhatikan dan diperhitungkan. Aktivitas pemindahan tersebut dapat ditentukan dengan terlebih dahulu memperhatikan aliran bahan yang terjadi dalam suatu operasi. Selanjutnya hal yang harus diperhatikan adalah tipe layout yang akan digunakan. Ongkos material handling adalah ongkos yang dikeluarkan untuk melakukan pemindahan material dari satu departemen menuju departemen yang lain untuk dilakukannya proses produksi selanjutnya. Tujuan ongkos material handling adalah menjaga atau mengembangkan kualitas produk, mengurangi kerusakan dan memberikan perlindungan terhadap material (Mercubuana, 2010).

     Kebutuhan-kebutuhan tersebut meliputi Menghemat penggunaan luas lantai. Mengurangi beban manusia dan kecelakaan. Meningkatkan semangat kerja. Mengurangi biaya handling atau penanganan. Mengurangi biaya overhead. Mengurangi biaya produksi (Mercubuana, 2010).

      Kegunaan luas lantai adalah saat digunakan dalam membantu untuk perhitungan Ongkos Material Handling antar departemen, sesuai dengan luas lantai hasil perhitungan. Beberapa aktivitas pemindahan bahan yang perlu diperhitungkan adalah sebagai berikut. Pemindahan bahan dari gudang bahan baku (receiving) menuju departemen fabrikasi maupun departemen assembling. Pemindahan bahan yang terjadi dari satu departemen menuju departemen yang lainnya. Pemindahan bahan dari departemen assembling menuju gudang bahan jadi (shipping). Alat angkut yang dipergunakan (Binus, 2004).


Peralatan Material Handling


      Peralatan material handling yang biasanya dipergunakan dalam suatu perusahaan pabrik dapat dibedakan atas sebagai berikut: Fixed path equipment yaitu peralatan material handling yang sudah tetap (fixed) digunakan suatu proses produksi,dan dapat digunakan untuk maksud-maksud lain. Sifat-sifat dari fixed path equipment  ialah: biasanya tergantung atau ditentukan oleh proses produksi. Sifatnya sudah tetap (fixed) tidak fleksibel, karena hanya digunakan untuk mengangkut barang-barang atau bahan-bahan secara terus-menerus dan tidak dapat digunakan untuk maksud yang lain. Mesin-mesin atau peralatan ini biasanya menggunakan kekuatan tenaga listrik. Contoh fixed path equipment adalah: ban berjalan (conveyor), ada yang diletakkan di atas ruang dan ada di lantai, derek (cranes), lift (elevator), kereta api (Unikom, 2011).

Varied Path Equipment, yaitu peralatan material handling yang sifatnya fleksibel dapat dipergunakan untuk bermacam-macam tujuan dan tidak khusus untuk mengangkut atau memindahkan bahan-bahan/barang-barang tertentu. Sifat-sifat dari varied ialah: biasanya tidak tergantung dari proses produksi. Dapat dipergunakan bermacam-macam operasi. Mesin-mesin atau peralatan semacam ini biasanya digunakan dengan kekuatan tenaga manusia atau tenaga mesin (motor). Contoh dari varied path equipment adalah bermacam-macam truk, forktruck atau forklift, kereta dorong (Mercubuana, 2010).

      Pemilihan jenis alat angkut didasari terhadap besar beban material yang harus dipindahkan, dimana jenis alat angkut yang dipergunakan bergantung pada spesifikasi alat angkut dalam melakukan operasinya. Beberapa alat-alat angkut yang biasa dipergunakan adalah: Alat angkut dengan menggunakan tenaga manusia kurang dari 20 kg. Alat angkut dengan menggunakan walky pallet (20-50 kg). Alat angkut dengan menggunakan lift truck (di atas 50 kg). Setelah ditentukan alat angkut yang akan digunakan, maka selanjutnya dapat ditentukan ongkos alat angkut berdasarkan jarak tempuh (meter gerakan). Seperti telah dikatakan bahan plant lay out dan material handling seharusnya berjalan bersamaan. Oleh karena itu plant lay out yang dibuat haruslah mencerminkan banyaknya kebutuhan atas kegiatan material handling dari suatu tingkat proses ke tingkat proses berikutnya (Mercubuana, 2010).

      Faktor-faktor material handling yang perlu dipertimbangkan dalam plant lay out yang baru ialah disediakannya gang-gang kecil atau ruang gerak (aisles) yang cukup lebar untuk menempatkan dengan aman jenis-jenis peralatan yang mekanis, dan dapat menampung muatan yang terbesar yang dihadapkan serta cukup bagi tempat bergerak orang-orang yang berjalan sejajar. Menyediakan tempat atau ruangan yang cukup untuk berjalannya pekerjaan, sehingga dapat dihindarinya rehandling sebelum pengolahan dilakukan. Menyimpan barang agar supaya barang tersebut tetap dalam keadaan yang baik untuk dikerjakan. Jangan sekali-kali meletakkan bahan-bahan lepas di atas lantai, kecuali bila tidak dapat dihindarkan sama sekali, karena hal ini membutuhkan pekerjaan dengan tangan untuk mengangkut dan membongkar bahan-bahan tersebut setiap kali dipindahkan (Mercubuana, 2010).

       Meniadakan kamar-kamar penyimpanan yang terpencil dan dipagari di mana mungkin, kecuali kalau: bahan-bahan harus disimpan secara teliti sekali, bahan-bahan mudah hilang, rusak atau dicuri, bahan-bahan tidak segera dapat diperoleh, karena waktu pengiriman bahan-bahan tersebut lama. Kamar penyimpanan yang dipagari membutuhkan sistem pemindahan yang khusus baik untuk penerimaan maupun pengeluaran barang, dan biasanya administrasinya khusus pula. Mengadakan suatu sistem pemindahan barnag-barang sisa atau scrap dari bahan-bahan bekas yang dibuang. Merencanakan pos-pos pengawasan sebagai suatu bagian dari arus pekerjaan. Menghindarkan semua gerakan yang menyilang (zig-zag yang melalui arus yang berlaku umum (general line of flow). Merencanakan pekerjaan-pekerjaan pengepakan pada akhir aliran atau arus pekerjaan untuk menghindarkan pekerjaan pengepakan dan pengangkutan kembali. Dalam merencanakan tempat-tempat penerimaan dan pengiriman barang, kekuatan lantai harus dibuat sedemikian rupa, sehingga memudahkan masuknya kendaraan pengangkut/pemindah bahan (Mercubuana, 2010).

sumber : http://bit.ly/2aJRiBX | Faried Pradhana

ORDER DAN PENYIAPAN BARANG


ORDER DAN PENYIAPAN BARANG
Indonesia sebagai negara berkembang yang cukup pesat dan menjadi salah satu negara terpadat didunia memberikan warna yang kental dengan perindustrian serta berputarnya barang.

Dan menjadi hal penting bagi para industrial dan pergudangan dalam mempersiapkan kebutuhan barang tersebut, kami akan memberikan sedikit penjelasan Order dan Penyiapan barang untuk berbagi kepada anda agar lebih tahu kiat apa dan langkah bagaimana guna mengambil langkah tepat menjadi Logistik yang Handal dalam pelayanannya.
berikut ulasan kami banyak lebih mengenai ORDER DAN PENYIAPAN BARANG.

ORDER DAN PENYIAPAN BARANG
Gambar simulasi proses order dan penyiapan barang

Mengenal lebih dalam Proses Order dan Penyiapan Barang


Pengertian Penyiapan  Barang adalah “Mempersiapkan pengeluaran fisik barang dari gudang yang disesuaikan dengan dokumen pemesanan dan pengiriman dan dalam kondisi yang sesuai dengan persyaratan penanganan barangnya.”

 Order processing adalah salah satu elemen didalam Kelengkapan Order. Istilah order processing umumnya digunakan untuk menggambarkan suatu proses atau alur kerja yang berhubungan dengan picking, packing dan pengiriman barang ke customer.

Setiap warehouse memiliki keunikan proses order processing ini dan tidak ada satupun suatu proses yang “fit for all size”.

Order biasanya berasal dari team sales atau pabrik yang melakukan order untuk pengolahan produksi. 

Order bisa disampaikan melalui elektronik mail, telepon, fax ataupun komunikasi lainnya yang memiliki kekuatan informasi berdasarikan kesepakatan kedua belah pihak.

Secara umum proses order sbb:
1.      Customer kirim order
2.      Order di input kedalam system (WMS)
3.      Otorisasi ke fihak berwenang (misalnya Finance)
4.      Jika OK, maka WMS akan menerbitkan Picking List (PL)
5.      Team Warehouse akan mempersiapkan barang berdasarkan PL tsb
6.      PL di konfirmmasi kedalam WMS
7.      System akan update stock dan mencetak dokumen pengiriman (Delivery Note, Invoice)
8.      Barang diterima oleh customer

Aktifitas Picking sangat kritis didalam suatu operasional warehouse. Edward H Frazelle, Ph. Didalam bukunya Supply Chain Strategy menyatakan bahwa picking merupakan ½ dari aktifitas gudang .

Dengan porsi yang sedemikian besarnya, maka jelas bahwa penanganan proses picking didalam gudang akan berpengaruh langsung terhadap efisiensi dan efektifitas operasional gudang secara umum.
Masih didalam buku yang sama, Edward juga menyatakan bahwa perjalanan menuju kelokasi picking barang adalah bagian terbesar waktu yang di konsumsi.

Artinya untuk meningkatkan produktifitas picking sebenarnya sangat sederhana yakni dengan memperpendek waktu perjalanan menuju ke lokasi picking.

1. Prioritas picking.

                        •        Siapa sebaiknya yang mencetak picking list ?

                        •        Penentuan penyiapan mana yang harus dipicking terlebih dahulu :

                             ·        Customer

                            ·        Multi drop

                            ·        Jenis barang

                            ·        Ketersediaan transport

                  2.      Pembagian dokumen picking list.

                        •        Perlu adanya leading hand yang mengatur pembagian picking list.

                        •        Pembagian berdasarkan urutan prioritas picking.

                        •        Pembebanan picking sebaiknya adil antar picker.

                        •        Pembagian jenis peralatan picking:

                                                •        Pallet

                                                •        Trolley

                                                •        Direct

                        •        Perlu disiapkan team emergency picking

3.      Pencatatan personal dan waktu.

•        Pencatatan diperlukan untuk mengukur produktifitas picking karyawan dan juga memantau terjadinya kesalahan picking.

•        Seragam kerja sebaiknya diberikan nomor di punggung dan di dada (seperti sepak bola)

4.      Pemilihan peralatan picking.

•        Peralatan picking hendaknya ditentukan sejak awal dan menjadi ‘dedicated’ per staff.

•        Penggantian peralatan dapat dilakukan sesuai dengan produktifitas karyawan.

6.      Perjalanan menuju lokasi pengambilan barang.

•        Menentukan lokasi mana yang harus ditempatkan barang fast moving, slow dan medium.

7.      Pencarian barang yang diminta.

•        Membaca lokasi penyimpanan vs picking list.

8.      Pengambilan barang.

•        Pengambilan barang tidak boleh dari bawah.

•        Hati-hati terhadap lokasi barang yang tinggi.

•        Sesuaikan dengan:

·        Lokasi

·        Nama barang

·        Qty

·        Batch/expire date

9.      Penataan barang diatas pallet/trolley.

•        Barang ditata sedemikian rupa sehingga tidak ada barang yang menutupi jika dilihat dari samping.

•        Jika menggunakan pallet, maka jangan mempergunakan jalur tengah pallet untuk meletakan barang.

•        Jika mempergunakan trolley, pisahkan antara barang berat dan ringan.

 10.    Pengumpulan hasil picking-an.

•        Jika pallet/trolley penuh, pastikan barang tersimpan dilokasi yang ditentukan.

•        Berikan tanda/nama picker, tujuan atau no picking.

•        Kelompokan sesuai dengan tujuannya.

•        Leading hand untuk penyiapan hasil picking, perlukah ?!


11.    Konfirmasi picking.

•        Konfirmasi picking diperlukan untuk mencetak surat jalan (DN)

•        Konfirmasi dilakukan jika seluruh picking-an sudah selesai per tujuan atau per no picking list.

•        Konfirmasi dilakukan hanya pada barang yang disiapkan, jika tidak ada barangnya (atau kurang) di konfirm sesuai dengan fisik barang saja.


12.    Legalitas dokumen.

•        Tandatangan antara picker dengan checker atau staff yang konfirm kedalam system.


Peningkatan Mutu Penyiapan Barang


1.      Picking per pallet

•        Dilakukan untuk barang-barang yang fast moving atau order pada minimal qty per pallet.

•        Menekankan pada desain pack untuk full pallet

13.     

2.      Picking dari storage area

•        Menghindari perjalanan panjang didalam warehouse

14.     

3.      Penyederhanaan tugas picking

•        Perjalanan ke, dari dan antar lokasi rak

•        Mengambil langsung dari areal penyimpanan atau picking

•        Pencapaian langsung ke akses lokasi picking

•        Penyederhanaan dokumen picking

•        Kemasan barang yang dipicking

•        Pencarian lokasi picking

 4.      Pengumpulan order

•        Mengurangi waktu tempuh per pick dengan meningkatkan jumlah picking order selama proses picking.
5.      Single order picking

•        Picking dilakukan satu-satu per waktu tertentu oleh picker khusus.


6.      Batch picking

•        Order digabungan untuk di pick pada waktu tertentu
7.      Zone picking

•        Picker melakukan pengambilan barang pada areanya saja


8.      Picking berurutan

•        Picking dilakukan sesuai urutan lokasi untuk mengurangi waktu perjalanan


9.      Paperless picking

•        Mengurangi dokumentasi dari order ke aktifitas picking


 produktifitas gudang naik 5%, artinya akan ada kecepatan yang naiknya setara dengan itu atau akan ada penurunan biaya di gudang yang identik dengan angka tadi.


Yang pasti, untuk memperbesar produktifitas picking, ayo kita  mencari Mak Erot !



Hambatan di Picking:


·        Secara umum, dengan meningkatnya tingkat order barang akan semakin menambah tingkat kesulitan picking. Padahal dengan meningkatnya order picking tsb maka perusahaan secara kuantitas akan lebih baik.

·        Semakin banyaknya barang yang ada, semakin komplek tingkat kesulitan dalam picking. Bayangkan jika barangnya beraneka ragam, ada yang karton dan yang pecahan, ada yang besar dan ada yang kecil, maka akan munculah masalah bagaimana memisahkan yang kecil dan yang besar, yang berat dan yang ringan atau yang murah dan yang mahal.

·        Semakin luasnya gudang, semakin memperpanjang waktu yang dibutuhkan oleh picker dalam menyediakan barang. Padahal, semakin luas gudang, itu pertanda semakin banyak barang yang ditanganni dan artinya semakin besar ‘tingkat kesejahteraan’ gudang itu sendiri.

·        Zone picking, picking dilakukan per zone oleh staff picking tertentu. Si A hanya mengambil dry goods, si B mengambil Soft line dan si C dikhususkan di Hard line.

·        Penghitungan ratio ini memang agak rumit, tidak semata-mata menentukan A-G di area I, H-K di area II dan seterusnya, tetapi lebih cenderung dilakukan berdasarkan tingkat kelakukan (movement level) dari product yang dikelolanya. Contoh sederhana, barang yang sangat fast moving, sebaiknya jangan diletakan dibagian paling belakang atau paling jauh dari meja admin/kasir.


Tips IV: O – Organisasi.


Organisasi disini diantaranya membahas mengenai  penyederhanaan tugas seorang picker. Mungkin ada baiknya picker tidak harus melakukan pengecekan atau pengepakan, tetapi hanya melakukan tugas pengambilan barang sesuai dengan dokumen dan meletakanya diarea keberangkatan.


Picker mungkin tidak harus mencatat waktu setiap kali pengambilan barang, menghitung jumlah label yang tersisa atau melakukan down load terhadap hasil scanner yang dilakukannya. Penghilangan aktifitas-aktifitas tsb diatas dijamin akan memperlancar pekerjaan seorang picker dan akan berdampak langsung pada ‘pembesaran’ producktifitas picking.


Tips V: T – Technology Support.


Technology support yang diperlukan adalah kemampuan picking list memberikan acuan dilokasi mana yang harus dilakukan picking dengan urutan antar lokasi yang benar. Mulai dari mana si Picker melakukan picking sehingga tidak ada peluang picking berjalas bolak-balik. Technology yang handal juga akan menyebabkan paperless work, misalnya melalui scanner. Dengan penerapan technologi canggih ini, minimal akan diperoleh kecepatan proses dan penghematan biaya administrasi.


Pack dan Sortasi


Fisik barang tidak dapat ditangani/dikirimkan dengan sistim informasi. Barang tanpa pengemasan tidak dapat ditangani dengan baik (Source: LogisticS Design Consulting Lab., Japan)


Tujuan pengemasan:


1.      Perlindungan terhadap isi barang yang dikemas

2.      Kemudahan proses penanganan

3.      Keekonomisan terhadap bahan pengemasan

4.      Penyesuaian dengan alat penanganan lanjut


Fungsi pengemasan:


•        Semakin kecil kemasan akan semakin mudah penanganannya

•        Biaya pengangkutan di pesawat – Berat Muatan vs Berat Volume

•        Ruangan truk menjadi lebih effisien

•        Loading barang menjadi lebih mudah


Kriteria pengemasan:


•        Tujuan/customer yang sama

•        Jenis barang yang sesuai (fungsi, kandungan, jenis barang)

•        Maksimalkan isi per kemasan – mengurangi ruangan kosong (densitas isi)

•        Disesuaikan dengan daerah tujuan, mode transportasi dan berat/ringannya barang

•        Dapat menjaga suhu dengan stabil sesuai waktu dan ice gell yang ditentukan (barang dingin)


Hambatan yang muncul didalam pengemasan dan sortasi:


•        Pengeluaran barang lambat

•        Lokasi pra delivery tidak teratur

•        Kerusakan barang

•        Urutan rencana delivery tidak tepat

•        Truck yang tidak sesuai dengan rencana

•        Partial picking

•        Dokumen tidak lengkap.


Optimalisasi pengemasan dan sortasi dapat dilakukan sbb:


•        Adanya alamat/label untuk per tujuan

•        Mengurangi waktu pencarian dalam packaging

•        Pengelompokan antara karton, boxes atau pcs

•        Memberikan label khusus untuk packaging boxes

•        Menghitung jumlah koli

•        Mengelompokan packaging kedalam alur keberangkatan yang benar


Hambatan didalam pengiriman barang:


•        Pengeluaran barang lambat

•        Kerusakan barang

•        Urutan rencana delivery tidak tepat

•        Armada angkutan yang tidak memadai

•        Truck tidak sesuai standard

•        Barang titipan (promosi)

•        Pengurusan barang CN



Salah Kaprah


Salah kaprah adalah kesalahan yang terjadi dilapangan, tetapi karena kesalahan tsb terus menerus terjadi, maka sudah dianggap ‘kaprah’ (biasa).

Beberapa salah kaprah yang harus dihindari di gudang anda didalam proses penyiapan barang diantaranya:


•        Letak lokasinya jauh, ambil saja ditempat yang terdekat

•        Ambil barang dari bawah tumpukan

•        Picking face kosong, pickingnya ‘bodong’

•        Tak ada forklift, memanjatpun jadi

•        Konfirm dokumen picking sebelum picking

•        Kardus tak ada, jadi satu solusinya





Referensi Packaging


Logistik hampir selalu diartikan dengan aktifitas pergerakan fisik suatu barang dari suatu tempat ketempat lainnya. Walaupun didalamnya terkandung juga pergerakan informasi dan jasa tentunya. Karena proses pergerakan tersebutlah maka akan muncul permasalahan-permasalahan yang erat berhubungan dengan efisiensi, kerusakan barang, ketidak cukupan ruangan yang tersedia bahkan lamanya proses yang dilakukan didalam penangannya.


Pergerakan barang harus dilakukan dengan cepat, aman dan mengkonsumsi waktu dan tenaga penanganan yang sangat minimal. Untuk mencapai peryaratan tadi, diperlukan pengamasan (packaging) yang tepat sebagai salah satu alternatif strategi yang langsung berdampak pada pengurangan biaya logistic yang pasti.


Prinsip dasar Packaging


Secara logika, benda tidak dapat diangkut/dipindahkan dengan system gelombang elektronik. Hanya di dalam film Startek lah suatu benda padat dapat dipindah lokasikan dengan mempergunakan suatu alat fiksi yang bernama teleport. Berbeda dengan informasi yang dapat dikirimkan melalui sms, mms, internet dan sebagainya maka jelaslah bahwa benda memerlukan suatu pengemasan didalam pergerakannya. Adalah hal yang tidak mungkin jika kita harus mengirimkan barang/part tanpa pengemasan yang akan berakhir dengan kerusakan atau miss function dari barang tsb.


Tujuan Packaging


LDCL (Logistic Design Consulting Laboratory) Jepang menyatakan, dengan menerapkan packaging yang benar pada suatu barang akan diperoleh beberapa keuntungan:


1.      Perlindungan terhadap isi barang dan bagiannya

2.      Nilai keekonomisan terhadap bahan pengemasannya sendiri

3.      Kemudahan didalam pengemasan dan penangannya

4.      Penampilan pada nilai jual

5.      Kecocokan dengan moda pengangkutannya

6.      Kemudahan didalam pendaurulangannya


Bagaimana Packaging dapat mengurangi biaya logistic ?.


A.     Resiko kerusakan atau kehilangan barang


Bayangkan jika sebuah gudang harus menyimpan mie instant misalnya dalam kemasan satuan tanpa mempergunakan kardus isi per 40an. Akan banyak kerusakan yang terjadi karena barangnya tidak akan bisa ditumpuk dengan baik dan resiko rusak/hilang pasti akan sangat besar. Dengan mengemas mejadi 40 bungkus per kardus, maka barang lebih mudah di tumpuk dan juga akan lebih aman terhadap kerusakan atau kehilangan barang.


B.     Kecepatan proses penanganan barang


Apa yang terjadi pada proses penerimaan barang, loading dan unloading jika mie instant tersebut ditangani tanpa kemasan kardus ? Tentu memerlukan waktu dan tenaga yang luar biasa bahkan dengan hasil  akurasi yang rendah. Kalaupun harus berhasil dengan baik, sudah pasti diperlukan usaha yang sangat banyak.


C.     Optimalisasi ruang pengiriman

Barang yang dikemas dengan baik dan efisien akan memberikan nilai ekonomis melalui efisiensi kebutuhan ruanganya. Didalam penerbangan misalnya, pengiriman barang akan sangat dipengaruhi dengan volume kemasan yang disamakan dengan berat barangnya sendiri dimana per IATA telah menentukan konversi volume 6000 cm3 setara dengan 1 kg (IATA, International Air Transport Association).


Metode Penghitungan Efisiensi Pengemasan


Bayangkan jika anda harus menentukan  mana yang paling efisien didalam mengiriman sebuah product sbb:


Barang A: berat muatan 50kg, ukuran kemasan 50x80x100 cm

Barang B: berat muatan 37kg, ukuran kemasan 50x40x70 cm


Menurut anda,, mana yang lebih efisien jika dilakukan pengiriman barang via udara ?


Densitas atau sering disebut juga index efisiensi kemasan adalah cara menentukan index kemasan kemasan dengan menghitung berat volume dibagi dengan berat muatan.  Semakin kecil nilai densitas suatu kemasan dapat dikatakan kemasan tsb memiliki efisiensi yang baik.


Densitas barang A:

·        Berat volume= 50x80x100 / 6000 = 66.7 kg

·        Berat muatan = 50 kg

·        Densitas = 66.7 / 50 = 1.334


Densitas barang B:

·        Berat volume= 50x40x70 / 6000 = 23.3 kg

·        Berat muatan = 37 kg

·        Densitas = 23.3 / 37 = 0.630


Dengan membandingkan densitas barang A dan barang B  nampak bahwa densitas B


Untuk mencapai densitas yang  terbaik, dapat dilakukan dengan beberapa cara:


1.      Perbaikan disain barang

2.      Mengurangi atau memotong bagian yang lebih dari suatu kemasan

3.      Melipat ruangan yang kosong didalam suatu kemasan

4.      Perubahan bahan pengemasan

5.      Konsolidasi pengiriman

6.      Modifikasi kemasan untuk pengiriman route tertentu.

7.      Penyeragaman kemasan (unitized loads) sehingga dapat dicapai kecepatan pengemasan yang tinggi.


Secara umum untuk mencapai efisiensi yang tinggi maka harus dilakukan pengecilan kemasan barang yang ada.


Perlengkapan Pengemasan


Pada saat barang dikirimkan melalui berbagai moda, kemasan barang harus terjamin didalam keamanan dan keutuhan barang yang didalamnya. Oleh karenanya ada beberapa perlengkapan pengemasan yang wajib dilakukan didalam proses suatu pengemasan:


·        Label barang rawan pecah (biasanya diberikan gambar gelas)

·        Label barang tidak boleh terbalik (biasanya diberikan gambar panah UP)

·        Lakban atau perekat kemasan

·        Label tujuan kirim (bisa berupa barcode)

·        Label cara penangaan  barang

·        Pallet




sumber : http://bit.ly/2aUXWV3 | Logistik Indonesia

4 Tips Untuk Memastikan Keselamatan Rak

4 Tip untuk memastikan keselamtan rak, Sebuah rak adalah penting untuk penyimpanan di setiap industri dan rak keselamatan penting untuk kesejahteraan pelanggan serta pekerja. Meskipun runtuhnya rak sangat jarang, pada dasarnya penting untuk menjaga terhadap kecelakaan apapun yang akan datang.
Rak yang dibangun mempertimbangkan tujuan yang mereka butuhkan untuk melayani dengan berat tertentu tertentu yang mereka dapat terus.
4 Tip untuk memastikan keselamtan rak
. 1) Pilih rak yang benar: Ada berbagai jenis rak, dari rak untuk supermarket, makanan dan sayuran penyimpanan atau kepadatan tinggi rak. Hal ini tidak cukup jika dimensi produk yang akan disimpan dianggap, yang penting adalah untuk memahami waktu gerakan produk yaitu seberapa sering produk akan dihapus dan diganti. Ketika produk dialihkan sering, ada peningkatan risiko gerakan dan rak tersebut harus menjadi lebih kuat daripada rak untuk produk yang disimpan untuk jangka waktu yang panjang tanpa banyak gerakan.
. 2)  Rak harus dirakit hanya oleh para profesional: The rak yang seperti bahan bangunan, mereka terdiri dari balok, footplates dan frame yang perlu dirakit dengan hati-hati, memahami dampak beban. Kadang-kadang, rak dapat dibangun dengan baik tetapi orang pengaturannya mungkin tidak tahu tentang posisi frame tepat dan untuk penyesuaian beban.
. 3)  Jauhi rak overloading: Rak dimaksudkan untuk digunakan untuk sejumlah berat, beban yang berlebihan dapat melemahkan rak. Sebaliknya, rak yang berupaya dengan jumlah yang diperlukan berat harus dipilih. Rak mungkin tidak tampak bengkok atau miring ketika berat badan berlebih ditambahkan tetapi mereka tidak akan stabil.
. 4)  Periksa rak secara berkala: Rak harus diperiksa secara berkala oleh staf pemeliharaan yang berkualitas untuk memastikan bahwa tidak ada overloading atau bahwa tidak ada kerusakan pada rak. Ketika forklift digunakan dalam supermarket untuk menempatkan persediaan di rak, mungkin ada kerusakan pada rak karena kontrol ceroboh dari forklift.
Memilih rak yang baik dari merek terpercaya membentuk inti dari memastikan keselamatan rak. Para profesional yang dikirim oleh merek-merek tersebut akan mengatur rak dan pemeriksaan berkala dan penilaian pemeliharaan akan menjaga kepentingan para pekerja serta pelanggan. Sebuah sistem rak yang baik akan berlangsung selama bertahun-tahun tapi penanganan yang tepat sama pentingnya untuk mempertahankan kehidupan rak.

sumber : http://www.jualrakminimarket.com/7-tips-bagaimana-mengoptimalkan-gudang-anda/

Tren Data Mining dalam Industri Retail

Perkembangan teknologi informasi semakin lama semakin pesat, Di berbagai tempat di berbagai industri, data mengalir semakin cepat dan dalam jumlah yang sangat besar. Aliran data yang luar biasa besar tersebut mengandung banyak informasi berharga yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Namun tentunya tidak mencari informasi berharga dari timbunan data tersebut. Karena itu, perlu dilakukan data mining.

Apakah data mining itu?

      Data mining bukan sekedar proses pencarian informasi berdasarkan kriteria - kriteria  tertentu saja. Data mining merupakan proses pemaknaan informasi yang tersembunyi dalam data. Hal ini dilakukan melalui proses identifikasi pola - pola yang ada, sehingga didapatkan pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui.

     Berdasarkan sejarahnya, evolusi data mining dapat digambarkan sebagai berikut. Era pengumpulan data (tahun 1960-an), era akses data (tahun 1980-an), era data warehousing & Decision support (tahun 1990-an) dan era data mining (sekarang).

     Walaupun konsep data mining telah dikenal sejak era tahun 1960-an. konsepnya telah ada sejak lama. Perkembangannya menjadi semakin pesat di era penggunaan komputer, di mana semakin banyak data dapat disimpan serta diolah dengan teknologi komputasi yang semakin canggih. Sejalan dengan perkembangan tersebut diciptakan pula banyak algoritma baru yang memanfaatkan perkembangan di berbagai sektor keilmuan.

     Meski demikian, kesulitan utama yang seringkali dihadapi dalam data mining tidaklah sekedar mencari suatu informasi dari banyaknya data yang ada (layaknya mencari jarum dalam jerami), melainkan terutama, dalam membangun suatu "aturan" akan apa yang terjadi sehingga aturan tersebut kemudian dapat digeneralisasikan untuk kasus yang sama dengan data aktual lainnya.

    Berbagai hal dapat digali dari data yang ada. Informasi tersebut diolah untuk memahami serta memprediksi apa yang akan terjadi di masa mendatang. Dalam data mining umumnya dilakukan proses klasifikasi pengelompokan, pengasosiasian, serta pencarian pola-pola yang terjadi secara berurutan.

    Data mining telah berkembang di berbagai sektor bisnis, seperti ritel perbankan, asuransi, dan telekomunikasi. Data mining juga telah diaplikasikan di sektor publik, seperti dalam proses identifikasi potensi terjadinya bencana, dan dalam bidang keamanan untuk mendeteksi kejahatan atau penipuan.

    Aplikasi data mining lainnya dapat ditemui dalam industri manufaktur, seperti untuk perencanaan produksi dan perawatan mesin, dalam manajemen rantai pasok, bahkan dalam bidang astronomi, bioinformatika, dan olah raga.

Bagaimana perkembangan data mining dalam industri ritel?

    Manfaat data mining dalam industri ritel, misalnya, antara lain adalah untuk memahami perilaku pelanggan dalam pembelian produk, serta memprediksi bagaimana respon pelanggan jika mendapatkan promosi tertentu.

    Industri ritel adalah salah satu penerima manfaat terbesar data mining. Industri ini merupakan pengguna awal yang terus mendapatkan manfaat dari data mining. Data yang berasal dari Point of Sales (POS), misalnya, digunakan untuk mengetahui produk apa yang laku terjual, terjual secara bersama-sama dengan produk apa saja, dan kapan penjualan tersebut terjadi.

    Dengan mengetahui hal-hal tersebut, apalagi jika ditambah dengan informasi demografis pelanggan, dapat dilakukan promosi produk yang tepat kepada pelanggan dengan perilaku pembelian yang berbeda. Selain itu, dapat pula diketahui tren yang ada serta kapan sebaiknya promosi dilakukan.

"Peritel berusaha meningkatkan keterikatan pelanggan dari sekadar sebagai pembeli biasa hingga menjadi pelanggan setia dengan loyalitas jangka panjang. Mereka bertindak layaknya konsultan belanja bagi para pelanggannya."

    Banyak peritel maju, baik peritel on-line maupun konvensional (physical Stores) telah mengaplikasikan data mining Mereka menggunakannya terutama untuk melakukan Market Basket Analysis, dengan tujuan untuk mengetahui produk apa saja yang dibeli secara bersamaan dengan produk lainnya, atau pun produk apa yang kemungkinan besar akan dibeli Selain itu, dengan menggunakan hasil-hasil yang didapat dari Market Basket Analysis, peritel pun dapat mengatur lay-out tokonya serta menentukan promosi yang tepat bagi pelanggan sesuai dengan karaketristik mereka.

    Sementara, peritel online menggunakannya untuk mengetahui pola belanja pelanggan. Dengan mengetahui halaman apa saja yang dikunjungi di suatu situs web, serta produk yang dilihat atau dibelinya, dapat diketahui produk atau promosi yang sebaiknya ditawarkan.

    Peritel physical stores pun tidak hanya berdiam diri. Mereka tetap mengedepankan pengalaman berbelanja serta keleluasaan pelanggan dalam memilih produk dengan melihat dan merasakan langsung produk yang diinginkan. Mereka berusaha meningkatkan keterikatan pelanggan dari sekadar sebagai pembeli biasa hingga menjadi pelanggan setia dengan loyalitas jangka panjang. Mereka bertindak layaknya konsultan belanja bagi para pelanggannya.

    Peritel juga dapat melakukan terobosan inovatif dengan menerapkan pengembangan aplikasi teknologi yang ada, misalnya untuk mengetahui produk yang diminati pelanggan berdasarkan data yang diperoleh dari RFID atau QR/barcodes produk. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui rute perjalanan" pelanggan. Peritel kemudian dapat menginformasikan produk atau memberikan penawaran atau diskon khusus kepada pelanggan tersebut. Lebih jauh, melalui member id, peritel dapat mencocokkan data pelanggan dengan produk yang ingin atau telah dibeli sebelumnya, sehingga dapat memberikan penawaran/diskon produk secara tepat.

    Industri ritel pun dapat memanfaatkan data mining untuk mendapatkan solusi terhadap berbagai permasalahan dalam Supply Chain Management (SCM), baik dalam hal prediksi permintaan maupun perencanaan persediaan, dengan memperhitungkan berbagai faktor yang ada. Sebagai contoh, Robinsons Group berhasil memperbaiki perencanaan stok dan persediaannya melalui klasifikasi baru pelanggan yang dilakukan berdasarkan permintaan. Dengan perencanaan produksi dan persediaan yang baik, pemenuhan permintaan pelanggan dapat dilakukan dengan service levels yang tinggi.

     Intinya, kepuasan pelanggan dapat ditingkatkan melalui teknologi dengan menggunakan analisis data mining, asalkan dilakukan secara benar Hasilnya jelas, peningkatan profit.

writed by : Edy Wijaya | Data Scientist PT. Upright Decision

Definisi Gudang

Mengenal Lebih Dalam Pergudangan

Gudang



definisi gudang
rak gudang - warehouse
Gudang adalah sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan berbagai macam barang. Setiap jenis bangunan bisa saja memiliki gudang, misalnya saja gudang pada bangunan pabrik, toko, dan bahkan rumah tinggal.Karena digunakan untuk menyimpan berbagai macam barang, biasanya gudang berpotensi untuk menyimpan debu.Karena itu, peletakan gudang perlu diperhatikan agar tidak mengganggu aktivitas lain dalam bangunan tersebut.
Gudang sebaiknya terletak di lokasi yang tidak lembap agar barang-barang kita tak gampang rusak. Asal tidak lembap, gudang bisa diletakkan di mana saja. Agar tak menghabiskan lahan pada rumah tinggal, gudang bisa diletakkan di bawah tangga atau di loteng. Biasanya gudang ini mencakup banyak sekali barang dan jenis-jenis lain.

Pergudangan

Warehouse atau pergudangan berfungsi menyimpan barang untuk produksi atau hasil produksi dalam jumlah dan rentang waktu tertentu yang kemudian didistribusikan ke lokasi yang dituju berdasarkan permintaan. Kendala yang dihadapi dalam pengelolaanwarehouse adalah akurasi pergerakan barang dan menghitung rentang waktu barang disimpan. Dibutuhkan kontrol aktivitas pergerakan barang dan dokumen untuk meningkatkan efisiensi penggunaan warehouse agar jumlah dan rentang waktu barang disimpan dalam nilai minimum atau sesuai perencanaan.

Warehouse Management System

Warehouse Management System yang didukung teknologi informasi untuk membantu pengawasan pergerakan barang masuk, pergerakan dalam warehouse dan barang keluar. Pengawasan dengan menggunakan sistem, memberikan kemudahan pengelolaan dan nilai tambah warehouse, yaitu:
  1. Memudahkan pengelola warehouse memberikan informasi ketersediaan suatu barang kepada bagian perencanaan produksi atau pengiriman agar ketersediaan barang tetap pada tingkat yang aman
  2. Penempatan barang yang ditentukan oleh sistem sehingga memudahkan penyimpanan, pengambilan dan perhitungan stok
  3. Mengurangi lead time dari aktivitas penyimpanan barang dan pengiriman barang
  4. Ketersediaan beragam informasi mengenai level barang dan utilitas warehouse memudahkan analisis untuk menyusun strategi penggunaan warehouse yang lebih efisien

Komponen Gudang

Komponen Gudang adalah bagian - bagian gudang yang menjadi pondasi utama gudang agar menjadi gudang yang utuh serta dapat menjadi tempat penyimpanan barang yang efektif dan berfungsi dengan baik. 

Merencanakan Tata Ruang Suatu Gudang

Hal utama yang harus diperhatikan ketika kita membuat atau merencanakan penggunaan ruang untuk suatu gudang adalah tempat penyimpanan barang serta area untuk penerimaan barang, pemilihan barang dan pengiriman barang.
Kita juga harus memperhatikan beberapa kegiatan pergudangan yang membutuhkan tempat atau ruang dalam gudang, antara lain:
  • Tempat pemeliharaan peralatan.
  • Tempat parkir.
  • Tempat untuk menyimpan barang-barang yang rusak atau barang yang harus dikembalikan atau untuk karantina dan sebagainya.
  • Tempat istirahat untuk para pekerja.
  • Tempat untuk pencatatan atau ruang administrasi.
  • Toilet dan sebagainya.
Berikut adalah beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan tersebut, yaitu:
1. Ukuran tempat penyimpanan barang. Ada tiga faktor yang harus diperhatikan, yaitu:
  • Tempat yang akan dipakai untuk penyimpanan barang dan peralatan.
  • Lorong atau gang antar barang, untuk akses langsung ke barang.
  • Jarak dinding ke barang.
Ruang yang akan dipakai untuk menyimpan barang dan peralatan akan ditentukan oleh karakteristik produk dan volume dari barang atau peralatan tersebut. Untuk barang yang memakai palet, dimensi palet akan menjadi faktor dasar untuk pengukuran ketika barang disimpan di atas palet. Jika barang yang disimpan lebih besar dimensinya dari pada dimensi palet maka perhitungan ruang akan memakai dimensi barang tersebut. Lebar gang tergantung pada peralatan yang digunakan dalam area penyimpanan dan metode operasi yang digunakan, manual atau menggunakan peralatan penanganan. Jika peralatan penanganan akan digunakan, lingkaran berputar dari peralatan yang digunakan untuk mengakses barang harus diperhitungkan.

2. Ukuran area penerimaan barang. Tidak ada formula spesifik untuk perencanaan area ini. Jenis dan ukuran kendaraan yang membawa barang akan menentukan apakah diperlukan tempat khusus yang memungkinkan kendaraan tersebut dapat masuk ke dalam gudang untuk melakukan proses pembongkaran atau diperlukan tempat khusus untuk pembongkaran di luar gudang. Kondisi ini akan sangat mempengaruhi besarnya ruang yang diperlukan. Tempat untuk melakukan pemilahan, kontrol kualitas dan persiapan penyusunan juga harus diperhitungkan berdasarkan jumlah barang yang akan diterima/dikirim atau yang harus ditangani setiap hari. Area khusus juga harus diperhitungkan jika ada barang yang harus diperiksa dan disimpan beberapa saat di tempat khusus itu sebelum hasil pemeriksaan keluar dan membolehkan barang tersebut disimpan atau disusun dengan barang yang lain. Peralatan yang dibutuhkan untuk penanganan barang ditentukan oleh karakteristik produk dan karakteristik beban per unit. Ukuran dari area penerimaan barang juga akan dipengaruhi oleh metode kerja terkait. Jika barang yang dibongkar dapat dipindahkan langsung ke penyimpanan maka daerah yang diperlukan tidak terlalu besar / lebih kecil daripada jika barang harus disimpan dulu di daerah penerimaan sebelum ke penyimpanan. Juga ada kemungkinan lain yaitu menggunakan ruang yang sama untuk proses pemuatan barang dari gudang. Keuntungan dari penataan  ini adalah fleksibilitas yang lebih besar dalam penggunaan orang dan peralatan serta pengurangan jumlah ruang yang dibutuhkan di gudang. Namun ada juga kelemahannya yaitu meningkatnya resiko kemacetan jika kegiatan bongkar muat harus mengambil tempat pada saat yang sama.

3. Ukuran area pengiriman barang. Tidak ada formula spesifik untuk perencanaan area pengiriman ini. Hampir sama dengan area penerimaan barang, jenis dan ukuran kendaraan yang akan mengangkut barang akan menentukan apakah diperlukan tempat khusus yang memungkinkan kendaraan tersebut dapat masuk ke dalam gudang untuk melakukan proses pemuatan barang atau diperlukan tempat khusus untuk pemuatan barang di luar gudang. Area khusus juga harus diperhitungkan jika ada barang yang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dimuat ke kendaraan pengangkut. Peralatan yang dibutuhkan untuk penanganan barang ditentukan oleh karakteristik produk dan karakteristik beban per unit. Jika barang yang akan dikirim dapat langsung dimuat ke dalam kendaraan pengangkut maka daerah yang diperlukan tidak terlalu besar / lebih kecil daripada jika barang tersebut harus disimpan terlebih dahulu di daerah pengiriman sebelum diangkut ke kendaraan.

4. Ukuran area pemilihan / pemilahan / sortir barang. Jika barang yang akan diterima harus dipilah atau disortir terlebih dahulu sebelum disimpan maka area pemilahan ini dimasukkan ke dalam perhitungan kebutuhan area. Jumlah barang yang akan dipilah akan menentukan luas daerah yang diperlukan. Selain itu metoda yang akan dipakai untuk proses pemilahan juga akan menentukan luas area yang diperlukan. Termasuk jika diperlukan proses jahit menjahit atau pergantian kemasan barang, maka diperlukan area khusus untuk kegiatan ini.

5. Aliran barang serta tata letak dalam gudang. Hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah:
  • Tata letak ruang untuk semua kegiatan.
  • Lokasi fisik barang di area penyimpanan (massal).
  • Bagaimana barang akan mengalir ke dalam dan keluar dari fasilitas gudang.
Tujuan mendefinisikan aliran dan tata letak dalam fasilitas gudang adalah untuk mengoptimalkan efisiensi arus barang melalui operasi atau kegiatan yang berbeda.
Tahapan pergerakan barang di dalam gudang sebagai berikut:
  • Penerimaan barang dan rotasi barang tersebut.
  • Penyimpanan barang.
  • Pergerakan barang dari tempat penyimpanan ke area pemilahan.
  • Pemilihan barang termasuk pengepakan atau perakitan ulang.
  • Pengeluaran atau pengiriman barang.
Sebisa mungkin pergerakan barang harus mencapai gerakan berkelanjutan melalui suatu proses dan meminimalkan jarak perjalanan dari satu tahap ke tahap berikutnya. Ada dua pilihan tata ruang yang biasanya dipakai, yaitu “through-flow” dan “u-flow”.
Keuntungan memakai u-flow:

Definisi Gudang | U-Flow

  • Karena daerah penerimaan dan pengiriman berdampingan, ruangan dapat digunakan secara fleksibel, terutama jika kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada waktu yang berbeda pada hari kerja. Hal ini dapat menghemat ruang secara keseluruhan.
  • Demikian pula, personil dan peralatan dapat digunakan dengan cara yang fleksibel, mengurangi kebutuhan untuk sumber daya secara keseluruhan.
  • Karena akses utama ke gedung hanya satu tempat, maka keamanan lebih mudah untuk dikelolah.
  • Tempat untuk area penyimpanan bisa lebih besar atau banyak.
Bentuk dari through-flow seperti di bawah ini:

Definisi Gudang | Through Flow


Sumber :
  1. http://bit.ly/2ascGv8 | Gudang
  2. http://bit.ly/2ascV9G | Pergudangan
  3. http://bit.ly/2a5Hr8R | Merancang Tata Letak Gudang





Standar Keamanan dan Keselamatan Rak






standar rak OSHA membutuhkan barang yang akan ditumpuk dengan aman.
standar rak OSHA membutuhkan barang yang akan ditumpuk dengan aman.

Isu-isu Keselamatan dan Kesehatan Administrasi rak standar untuk mengurangi kecelakaan di tempat kerja. Standar-standar ini mencakup penempatan rak, metode yang tepat susun item dan bagaimana untuk mengeluarkan benda aman dari rak. Penyidik ​​dari salah satu dari lebih dari 200 kantor lapangan OSHA dapat mengunjungi perusahaan setiap saat untuk melakukan inspeksi mendadak dari kondisi kerja karyawan.

SANGAT PENTING

Menurut OSHA (Occupational Safety and Health Administration)*, tingkat kematian di tempat kerja bagi karyawan gudang adalah yang tertinggi untuk industri apapun di AS Banyak dari cedera ini berasal dari benda yang jatuh dari rak dan memukul karyawan bawah. Risiko cedera fatal juga tinggi dalam industri gudang. Mencapai canggung untuk menghapus item dari rak dapat menyebabkan strain bahu, cedera punggung dan cedera berulang-gerak lainnya.

Menempatkan Item

standar OSHA mendorong perusahaan untuk menginstal rak pada ketinggian menengah untuk mencegah karyawan dari mencapai terlalu tinggi atau terlalu rendah. Bahan harus ditumpuk di rak di lurus, bahkan garis yang tidak akan jatuh sebagai pelanggan atau karyawan menghapus item. Tempatkan item terberat di rak bawah untuk mencegah rak terbalik. Stack item cahaya di rak tertinggi untuk mengurangi risiko cedera saat mencapai hingga menghapusnya. Menjaga barang-barang berat di dekat bagian bawah juga mengurangi kerusakan yang disebabkan jika barang yang terlempar dari rak-rak atas.

Menghapus Item

perusahaan harus menawarkan pekerjanya sebuah tangga kokoh dengan langkah-langkah datar dan berengsel kembali. Hal ini memungkinkan karyawan untuk menghapus item dari rak-rak yang tinggi tanpa mencapai di atas kepalanya dan menempatkan dirinya dalam posisi yang berbahaya. Perusahaan juga harus menyediakan tangga yang lebih tinggi dari salah satu item di rak-rak. Pekerja tidak boleh dipaksa untuk berdiri di anak tangga puncak tangga untuk mencapai rak.

Rekomendasi industri-Spesifik

rak-rak toko kelontong harus dilengkapi dengan partisi pegas yang mendorong sisa item ke depan ketika seorang pelanggan menghilangkan sesuatu dari depan rak. Hal ini mengurangi lengan dan ketegangan kembali ketika meraih item ke arah belakang rak. Toko harus menyediakan bangku atau bantalan lutut untuk mengurangi ketegangan lutut ketika berlutut untuk saham rak rendah untuk waktu lama. Karyawan yang bekerja dengan pipa, tiang atau benda silinder lainnya harus menempatkan penghalang di rak-rak untuk mencegah mereka bergerak di sekitar di rak atau bergulir ke lantai.
*badan audit standar keselamatan dan keamanan gudang di Amerika

oleh Denise Sullivan, studioD sumber : http://smallbusiness.chron.com/osha-standards-shelving-42581.html

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget