Juli 2015

Minimarket islami
Perhatikan saja, bila Anda mengunjungi gerai minimarket Al Hikmah, ada suasana agak berbeda dari gerai minimarket umumnya yang bertebaran di Jabotabek. Selain menjual produk berlabel halal, manajemen Al Hikmah mengharuskan seluruh pramuniaga wanita mengenakan jilbab. Suasana Islami semakin terasa dengan mengalunnya lagu-lagu penyejuk rohani bagi kalangan Muslim.
Selain Al Hikmah, konsep dan nuansa ritel Islami tampaknya juga berusaha dihadirkan oleh beberapa nama lain: Super Mini Market (SMM) yang dikelola Kopontren Daruut Tauhiid (Bandung), Al Amin (Bogor), dan Markaz yang kini memiliki 17 gerai dengan konsep waralaba.
Perkembangan jumlah gerai ritel berkonsep Islami memang tidak secepat gerai ritel konvensional, seperti Indomaret ataupun Alfamart. Alfamart, misalnya, hingga akhir 2003 menargetkan akan memiliki sekitar 600 gerai, sedangkan Indomaret memancang target 800 gerai (bahkan hingga akhir tahun depan 1.000 gerai). Adapun Markaz yang mulai dirintis sejak tahun 2000, baru memiliki 17 gerai yang tersebar di Yogyakarta, Jakarta dan beberapa kota di Jawa Timur. “Tahun depan kami menargetkan memiliki 54 outlet,” ujar Aji Haryo, Franchise Recruitment Officer PT Solar Sentra Distribusi, pengelola Markaz.
Menurut Aji, untuk mempercepat penambahan gerainya Markaz menawarkan sistem waralaba. Kelebihan yang ditonjolkan, antara lain menawarkan konsep waralaba Islami dengan investasi relatif rendah. Ia menjelaskan, untuk gerai seluas 50 m2 (stok awal sekitar 2 ribu item produk), peminat cukup membayar sekitar Rp 125 juta, plus fee waralaba Rp 25 juta untuk jangka waktu 5 tahun, sedangkan untuk gerai seluas 120 m2 (stok awal 4-5 ribu item produk), peminat harus membayar sekitar Rp 250 juta dengan fee Rp 35 juta untuk jangka waktu 5 tahun. Adapun target omsetnya, disebutkan Aji, Rp 2-3 juta/hari untuk toko ukuran 50 m2, dan Rp 6-7 juta/m2 untuk toko seluas 120 m2.
Jelas, investasi di Markaz relatif lebih murah dibanding Alfamart, misalnya. Di jaringan ritel yang dikelola Grup Sampoerna ini, untuk tipe toko 36 rak (luas toko 60-90 m2), peminat harus membayar biaya sekitar Rp 300 juta, tipe 45 rak (90-150 m2) Rp 350 juta, dan tipe 54 rak (150 m2) Rp 400 juta. Biaya itu sudah termasuk fee waralaba.
Berbeda dari Markaz yang tergolong ekspansif di kalangan peritel berkonsep Islami, Al Hikmah agaknya lebih konservatif. Dengan memiliki dua gerai minimarket dan satu gerai supermarket saat ini, pengelolanya mengaku belum berencana menambah outlet hingga akhir 2003. Bahkan, tahun depan hanya akan menambah satu gerai di Bintaro. Menurut Trio Nursalam, General Manager Pemasaran Al Hikmah, kelebihan minimarket-nya adalah membidik segmen menengah-bawah, sehingga harga murah dijadikan senjata untuk menarik konsumen. “Margin kotor yang kami dapat rata-rata sekitar 10%,” katanya. Strategi harga murah ini dilakukan Al Hikmah dengan cara subsidi silang di antara beberapa produk yang dijual.
Menurut Trio, agar tidak ditinggalkan konsumennya, Al Hikmah juga mengedepankan pelayanan kepada konsumen, dan menjaga kelengkapan produk sesuai dengan keinginan konsumen. “Selain harga, kelengkapan produk juga menjadi daya tarik konsumen,” katanya. Niken, 34 tahun, pengunjung minimarket Al Hikmah Rawamangun, mengakui kelengkapan produk yang ditawarkan menjadi daya tarik, apalagi beberapa produk sembako seperti telur dan susu harganya lebih murah dibanding minimarket lain. Trio memperkirakan, omset masing-masing gerai minimarket-nya Rp 3-4 juta/hari.
Langkah konservatif juga dipilih SMM yang berlokasi di Geger Kalong Girang, Bandung. SMM yang didirikan Kopontren Daruut Tauhiid pada 1994, belum berani berekspansi menambah gerai. Menurut Abdurrachman Yuri, pengelola SMM yang juga adik kandung Aa Gym, sampai saat ini SMM belum berencana menambah gerai. Alasannya, konsep SMM awalnya hanya untuk memberdayakan potensi masyarakat setempat. Sekarang, gerai toko dua lantai ini menyediakan sekitar 9 ribu item produk, dengan omset Rp 350 juta/bulan.
Menurut Anwar Hadi Isnianto, Vice President MQ Corporation, sebenarnya SMM tidak melabelkan sebagai jaringan ritel Islami. Memang, diakui Anwar, ketika terdengar adzan, minimarket itu sementara ditutup. Namun, menurutnya, nuansa Islami justru lebih ditekankan pada manajemen dan kualitas pelayanan yang didukung dengan menjual produk yang dijamin kehalalannya.
Anwar mengungkapkan, tahun depan MQ Corporation hendak menekuni bisnis minimarket dengan label MQMart yang merupakan pengembangan dari MQNet. Menurutnya, perkembangan MQNet sangat pesat, hanya dalam beberapa bulan telah memiliki 250 ribu member. Namun, ia belum bersedia menjelaskan panjang-lebar tentang konsep minimarket yang hendak dikembangkan. “Rencananya akan dikembangkan dengan pola franchise dan outlet pertamanya di Bandung,” ujarnya.
Pudjianto, Direktur Pengelola Alfamart menyambut baik munculnya minimarket bernuansa Islami, karena kehadiran minimarket ini membidik segmen tersendiri yaitu kaum Muslim. Ia mencontohkan Tip Top, yang sudah dipersepsikan sebagai supermarket bernuansa Islami, sehingga memiliki pelanggan loyal, meskipun harganya belum tentu lebih murah.
Ia membenarkan dari sisi pelayanan, jaringan ritel bernuansa Islami memang terkesan lebih memberikan kenyamanan bagi konsumen. Namun, dari segi harga, ia kurang yakin bila jaringan minimarket bisa memberikan harga lebih murah, karena hal ini terkait dengan volume penjualan.
Ke depan, minimarket bernuansa Islami tampaknya masih terfokus pada memperbanyak jumlah gerai, dan belum berencana mengembangkan ke skala yang lebih besar seperti supermarket ataupun hypermarket. “Kami sedang melihat perkembangan, tapi dari pihak pemilik ke depan ada rencana mengarah ke hypermarket, meskipun ini baru sampai tahap pemikiran,” papar Trio. Swa.co.id

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Minimarket murahKONTAN- Peluang bisnis ritel masih menjanjikan. Itu juga yang mendorong PT Immortal menawarkan kemitraan minimarket. Paket investasinya senilai Rp 60 juta. Omzet mitra usaha ini sekitar Rp 50 juta per bulan. Dengan laba 15%, mitra bisa balik modal dalam tujuh bulan sampai setahun.
Bisnis minimarket tak pernah surut. Buktinya, minimarket terus bermunculan bak cendawan di musim hujan. Kendati persaingan kian ketat, bisnis ini tetap menjanjikan. Maklum, konsumsi masyarakat terus meningkat.
Itulah sebabnya, PT Immortal Store di Surabaya, Jawa Timur, ikut terjun menekuni bisnis minimarket. Sejak tahun 2011, perusahaan ini terjun ke bisnis minimarket dengan mengusung merek Homart. Kini, sudah ada dua gerai Homart di Surabaya.
Untuk mengembangkan usahanya, mulai awal tahun ini PT Immortal resmi menawarkan kemitraan usaha. Lewat kemitraan ini, Immortal menawarkan paket investasi Rp 60 juta. "Mitra akan mendapat berbagai fasilitas," kata Indra Kusuma, Corporate Partner Immortal.
Dengan membayar Rp 60 juta, mitra akan mendapat peralatan berupa paket sistem komputer untuk minimarket. Rincian barangnya ada komputer, LCD monitor, modem, laser barcode reader, printer, card reader, PIN keypad, serta software dan database. "Total nilainya mencapai Rp 10 juta," kata Indra.
Selanjutnya, mitra juga akan mendapat pasokan produk sponsor dari Immortal senilai Rp 20 juta. Produk sponsor ini terdiri dari kosmetik, suplemen kesehatan, dan buku.
Terakhir, mitra akan mendapatkan pasokan barang kebutuhan sehari-hari, seperti beras, snack, sampo, sabun, deterjen dan lain-lain. "Nilai pasokannya mencapai Rp 30 juta," jelas Indra. Selain itu ada pula fasilitas pelatihan buat karyawan.

Indra mengklaim, Homart memiliki keunggulan karena menerapkan program member get member. Dalam program ini, pemilik minimarket bisa menawari konsumennya untuk ikut member Immortal dengan membayar Rp 50.000.
Selain mendapat kartu, "Anggota juga akan mendapat barang senilai biaya pendaftaran itu," timpal Sri Hastuti, staf marketing di Immortal.
Menurutnya, setiap anggota nanti mendapat cash back 10% dari setiap transaksi. Sementara mitra sendiri akan mendapat bonus sekitar 2% dari Immortal.
Dengan sistem ini, mitra punya dua sumber pendapatan. Yakni, dari penjualan barang dan bonus yang didapat dari transaksi member. Bonus yang didapat mitra tidak sebatas transaksi member di Homart, tapi juga transaksi di Grup Immortal lainnya.
Perlu diketahui, Grup Immortal menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan baik restoran, properti, elektronik, kursus, bengkel, salon, travel, rumah sakit, klinik, apotek, dan hotel, otomotif. "Setiap member yang transaksi di grup akan mendapatcash back," ujar Sri.
Keuntungan lainnya, kata Indra, mitra bisa menukar barang yang hampir kedaluwarsa ke kantor pusat. Namun, penukarannya harus tiga bulan sebelum kedaluwarsa. Bila barang habis, mitra diharuskan membeli pasokan dari kantor pusat.
Sri memperkirakan, dalam sebulan mitra bisa meraup omzet sekitar Rp 30 juta-Rp 50 juta. Adapun laba bersihnya sekitar 15% per bulan. Dengan laba sebesar itu, mitra bisa balik modal dalam waktu tujuh bulan sampai setahun.
Erwin Halim, konsultan dan pengamat waralaba dari Proverb Consulting menilai, peluang bisnis ritel masih cukup menjanjikan. Namun, tingkat persaingan bisnis ini sudah sangat ketat. Maklum, pemainnya sudah berjibun.
Ia pun menyarankan pemain bisnis ini untuk menawarkan sesuatu yang berbeda kepada para konsumennya. Misalnya, dengan menyediakan layanan antar ke rumah.
Pemilihan lokasi juga penting. Pilih lokasi yang belum begitu banyak minimarket. Erwin sendiri menilai, sistem member yang ditawarkan Homart cukup menarik.
Program member ini bisa menjadi pembeda Homart dengan minimarket lain. "Tapi Homart harus bisa menjelaskan secara detail ke konsumen terkait dengan fasilitas yang didapatnya dengan menjadi anggota," ujarnya. (KONTAN)

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

Modal buka mini MarketJakarta -Bisnis minimarket kini sudah menjadi pilihan bagi para investor yang ingin memutar uangnya di bisnis riil khususnya di sektor ritel. Banyak pilihan konsep minimarket ditawarkan oleh para perusahaan pemegang waralaba (franchisor) ke calon investor (franchisee).

Misalnya PT Sumber Alfaria Trijaya sudah lama menawarkan konsep waralaba minimarket. Membangun bisnis waralaba minimarket termasuk bisnis yang butuh modal yang tak sedikit.

Corporate Communication General Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Nur Rachman mengatakan tak ada patokan persis soal total dana untuk membuka gerai 1 minimarket Alfamart. Namun untuk membeli waralaba Alfamart saja dibutuhkan dana hingga Rp 400 juta/gerai. Investasi itu, di luar lahan dan bangunan, maka untuk total dana yang dibutuhkan sedikitnya Rp 1 miliar.

"Kalau Rp 1 miliar tapi itu bisa di pinggiran Jakarta, tapi kalau seperti di BSD harga ruko di sana sudah miliaran, jadi tergantung tempat," katanya saat berkunjung ke kantor detikcom, Senin (16/6/2014)

Investasi di luar bangunan dan lahan, berdasarkan simulasi alfamart dari situs resmi alfamartku.com, dana investasi terbagi dua kategori toko, untuk investasi 36 rak dengan luas 80 m2 maka investasinya Rp 380 juta. Kedua investasi 45 rak dengan luas bangunan 100 m2 maka investasinya Rp 400 juta

Investasi awal tersebut mencakup Biaya waralaba untuk 5 tahun, Renovasi lahan (konstruksi sipil; instalasi kelistrikan), Perijinan, Peralatan & AC, Cash register & sistemnya, Papan nama toko berikut displaynya dan Promosi & persiapan pembukaan toko

Selain membuka gerai baru, ada juga opsi melakukan Toko Take Over (TO) besar investasi yang dikeluarkan sekitar Rp 700-800 juta. Pembelian toko Alfamart yang sudah berjalan dengan harga paket yang telah ditentukan sudah termasuk franchise fee untuk 5 tahun (pemakaian merek), perizinan, peralatan toko & Goodwill.

Toko yang akan di take over harus sudah berjalan selama 1 tahun dengan sales harian antara Rp 10-13 juta dan dapat diperpanjang sewanya selama 5 tahun.

Kunci sukses dalam berbisnis minimarket adalah, antaralain Lokasi yang strategis, merek yang sudah dikenal luas, pelayanan toko yang baik, pilihan produk yang tepat & berkualitas, harga yang pas, display yang menarik, dan promosi yang berkesinambungan

Nur Rachman menambahkan investasi di minimarket sangat tergantung lokasi dan traffict manusia yang tinggi. Saat ini persaingan bisnis minimarket sangat ketat, tak heran dalam satu lokasi ada beberapa gerai minimarket dengan merek yang berbeda. Selain itu, di beberapa daerah ada kebijakan pembatasan gerai minimarket

"Ada beberapa wilayah yang memang tertutup untuk minimarket," katyanya.

Proses persiapan membuka gerai minimarket dari mulai persiapan seperti usulan lokasi, hingga disetujui, sampai beroperasi setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih hingga 3 bulan. Para calon investor harus mengantre proses seleksi oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.

Terkait usulan lokasi, calon investor harus menyampaikan usulan lokasi gerai yang akan dibukanya. Selain data pribadi, calon investor harus menyampaikan data usulan lokasi (ruko, rumah,tanah kosong) termasuk ukuran detil seperti panjang, luas, lebar, bangunan, termasuk status lahan apakah milik sendiri atau sewa. Soal lokasi akan sangat menentukan tingkat kecepatan pengembalian modal calon investor.

"Balik modal berdasarkan pengalaman maksimum 3 tahun, 22 bulan paling bagus," timpal Regional Corporate Communication Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Firly Firlandi.
detik.com


---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

buka usaha minimarketBerapa modal yang harus disiapkan untuk memulai usaha minimarket? Banyak pengusaha perseorangan, bukan dari perusahaan franchise, yang menghendaki modal minimal dan kepraktisan, akan membuka sebuah mini market yang menggunakan sistem franchise. Kita hanya perlu mengajukan surat permohonan kerja sama, persyaratan tempat usaha sesuai standard mereka dan karyawan. Bila disetujui, kita bisa segera membuka sebuah mini market dengan sistem franchise.

Produk dan seluruh sistem pengoperasian mini market hingga komisi akan diatur oleh sistem perusahaan. Tetapi bila memiliki modal yang lumayan besar, katakanlah di atas Rp100 juta, disarankan membuka usaha mini market sendiri.

Awalnya silahkan menghitung biaya yang akan dikeluarkan tiap meter persegi. Pengamat Keuangan Redmond Medan, Mariana mengatakan, rasio investasi sebuah minimarket mulai dari Rp 3 – Rp 5 juta per meter persegi. Dengan demikian jika ingin membuka usaha minimarket dengan luasan 50 meter persegi setidaknya modal yang diperlukan diluar bangunan adalah Rp 150-250 juta yang berisi 20 rak.

Langkah berikutnya yang harus dimiliki pebisnis yang ingin memiliki minimarket adalah mutlak harus memiliki tempat usaha diluar modal. Idelnya luas minimarket mulai dari 50 m2 sampai 150 m2. Meskipun hanya memiliki ruko atau tempat usaha hanya 50 m2, namun upayakan lebar bagian depan tempat usaha tidak kurang dari 5 meter. Yang membedakan mini market dengan supermarket besar adalah jumlah orang yang lalu lalang di kawasan tersebut. Sebab 80 persen pengunjung minimarket adalah orang pejalan kaki, sehingga cari lokasi yang mudah dijangkau pejalan kaki. Pastikan lokasi usaha yang akan dibangun minimarket tersebut berada di kawasan stratagis seperti ruko kompleks perumahan, pinggir jalan yang ramai atau sepanjang jalar masuk menuju kompleks perumahan.

Lalu cari lokasi usaha. Ini yang penting. Kecil saja, tidak harus lokasi yang luas atau besar. Kalau lokasi rumah strategis, bisa dibangun di rumah. Atau juga bisa menyewa bangunan atau ruko yang agak besar di tengah kota. Lalu direnovasi dan didesain sedemikian rupa hingga menarik. Jangan lupa sebuah hal penting, yaitu lahan parkir. Tidak harus besar, tetapi cukup nyaman dan aman untuk parkir kendaraan. (as/tribunnews)

---------------------------------------------------------
Website Raja Rak Minimarket yang lain : 

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget