Latest Post



Ketika anda memiliki niat kuat untuk memulai usaha namun terkendala modal, maka muncul-lah pikiran untuk melakukan 'jalan pintas'. Adapun 'Jalan pintas' yang dimaksud adalah dengan berhutang alias mengajukan pinjaman -- guna dijadikan modal usaha anda.

Menurut pandangan admin, berhutang merupakan cara yang sangat tidak dianjurkan untuk memulai usaha. 'Pondasi' bisnis anda akan sangat lemah -- apabila 'ditopang' oleh modal yang berasal dari hutang.

Masih tak percaya?

Apabila anda masih ingin mengajukan pinjaman untuk modal usaha, sepertinya anda harus membaca 3 hal berikut ini. Di sini akan dipaparkan tentang 3 hal yang memperkuat argumen admin -- bahwa JANGAN BERHUTANG apabila ingin memulai usaha. Silahkan anda simak dan resapi 3 hal yang akan dipaparkan di bawah ini!

1. Yang namanya bisnis memiliki 2 kemungkinan (berhasil atau gagal)


Memiliki keyakinan untuk 100% sukses adalah hal yang bagus. Namun, apabila keyakinan tersebut dijadikan 'dalih' sekaligus 'senjata' untuk 'meyakinkan diri' dalam mengajukan hutang, maka lebih baik anda segera 'bangun dari tidur anda'.

Ketika anda memilih 'jalan pintas' untuk berhutang (sebagai modal usaha), maka anda sudah tergolong sebagai sosok yang sombong.

Kenapa disebut sombong?

Karena anda terlalu yakin dengan visi anda bahwa bisnis anda PASTI sukses.

Ketahuilah, dalam menjalankan bisnis -- kemungkinan hasilnya tidak hanya satu -- melainkan 2 kemungkinan, yakni SUKSES atau GAGAL. Jangan lupa, yang menjadi penentu keberhasilan anda adalah TUHAN, bukan khayalan anda sendiri.

Bayangkan, kalau bisnis anda GAGAL dan anda harus membayar 'hutang modal' yang menjadi kewajiban anda. Maka anda akan 'jatuh + tertimpa tangga pula'. Sudah bangkrut, harus bayar hutang pula.

Admin sendiri memiliki prinsip untuk menghindari yang namanya hutang. Apabila dikaitkan dengan menjalankan usaha, admin lebih memilih menjalankan usaha yang efisien dari segi modal (baca: menjalankan bisnis dari nol), meskipun harus bersusah payah merintisnya.

Admin tidak mau terjebak pada mental sebagian besar pebisnis yang 'mau berbisnis asalkan modalnya banyak -- meskipun dengan berhutang'. Prinsip admin, dalam memulai bisnis -- kalau bisa harus efisien, hemat, biaya minim, hasil maksimal, dan kalau gagal tidak rugi-rugi amat.


2. Jangankan berkembang, survive saja sulit apabila terlilit hutang


Menjalankan usaha dengan modal yang didapat dari utang, tentu perlu kalkulasi yang bagus. Yang namanya memulai usaha, tujuan pertama kita adalah survive alias bertahan hidup. Polanya adalah seperti di bawah ini:



Survive (merintis) ---> berhasil ---> konsisten (stabil) ---> berhasil ---> bertumbuh (ekspansi).

Nah, apabila anda menjalankan bisnis dengan modal berupa hutang, maka anda akan kesulitan untuk bertahan di fase yang pertama -- yaitu survive. Yang namanya bisnis awal (permulaan), tentu produk / jasa / layanan yang anda jual tidak langsung laku. Ada banyak tahapan yang harus anda lalui, dan itu mengharuskan anda untuk terus survive.

Menurut admin, harus survive saja kita sudah susah payah, belum lagi harus membayar hutang / kewajiban bulanan yang harus kita bayar. Apabila telat, maka 'bunga pun akan berkembang' dari waktu ke waktu. Semakin lama telat, maka 'bunga yang berkembang akan terus beranak cucu'.

Sedikit pandangan mengenai 'orang yang mengambil keuntungan' dari yang namanya hutang (umumnya yaitu perbankan). Tidakkah mengherankan kalau di Indonesia banyak bank yang berdiri, namun semuanya bisa terus eksis alias tidak ada yang rugi?

Jawabannya karena bisnis mereka -- yakni 'menggandakan uang' dengan meminjamkan 'uang berbunga' sangatlah 'menjanjikan'.

Maka dari itu lembaga-lembaga keuangan akan berusaha semaksimal mungkin untuk 'menggaet' debitur (orang-orang yang berhutang), karena mereka-lah 'mangsa empuk' untuk 'penggandaan uang' tersebut. Apabila mereka tak bisa bayar (kredit macet), toh ada 'senjata pamungkas' yakni penyitaan jaminan berupa aset milik debitur.

Salah satu faktor yang membuat anda begitu mudah dalam mendapatkan hutang adalah karena prosesnya yang semakin mudah, iming-iming bunganya yang kecil, dan lain sebagainya. Belum lagi mental mayoritas masyarakat Indonesia yang 'serba instan' (termasuk 'ingin instan' dalam mendapatkan modal), membuat perbankan semakin berjaya.


3. Apakah enak menjalankan usaha dengan 'bayang-bayang' kewajiban yang harus dibayar?


Paling enak menjalankan usaha itu tanpa adanya hal-hal lain di luar usaha yang harus dipikirkan. Jadi, anda bisa fokus menjalankan usaha anda tanpa dibayang-bayangi rasa takut akan 'sesuatu'.

Apabila anda menjalankan usaha dengan modal dari pinjaman, maka anda akan dibayang-bayangi oleh kewajiban untuk mengangsur pinjaman tersebut (plus bunganya). Lain halnya kalau usaha anda ditopang oleh dana investor, maka 'bayang-bayang ketakutan' tak sebesar modal dari hutang.

Apakah enak menjalankan bisnis dengan dibayang-bayangi kewajiban membayar hutang?

Kalau menurut pendapat admin, menjalankan usaha haruslah tanpa beban agar bisa fokus. Apabila menjalankan usaha dengan modal berupa hutang, maka selalu ada bayang-bayang ketakutan kalau-kalau tak bisa membayar hutang. Seandainya hal itu benar-benar terjadi, maka habislah sudah!

Admin sangat anti dengan yang namanya berhutang, kalau pilihannya antara 'menjalankan bisnis atau tidak'. Menurut admin, berhutang TERPAKSA dilakukan kalau pilihannya antara 'hidup atau mati'.

Berhutang untuk menjalankan usaha memang marak terjadi. Selain karena kemudahan prosesnya, program pinjaman akhir-akhir ini penuh dengan iming-iming bunga kecil dan kelebihan lainnya. Namun dibalik iming-iming tersebut, terdapat 'sisi gelap' yang sangat merugikan debitur. Tapi kalau 'sisi gelap' tersebut dilihat dari sudut pandang si peminjam uang, itu merupakan 'lahan empuk' yang menggiurkan.

Apakah anda sudah paham?

Kalau belum paham juga, silahkan tetap keukeuh dengan keyakinan anda untuk berhutang. Toh, bisnis yang anda jalankan juga PASTI sukses (menurut khayalan anda), dan anda pasti bisa melunasi hutang tersebut.

sumber : http://www.onlenpedia.com/2017/05/jangan-memulai-usaha-dengan-berhutang.html



Hidup adalah pilihan, dan kita pun harus memilih yang mana yang terbaik untuk hidup kita.

Bicara soal pilihan hidup, salah satu yang harus kita pilih adalah dalam hal mencari uang, apakah kita memilih jadi karyawan, atau jadi bos. Namun pada tulisan kali ini pilihannya 'sedikit dirubah', yakni "Lebih memilih menjadi karyawan dengan jabatan yang tinggi, atau menjadi bos di usaha yang kecil?"

Kalau pertanyaan di atas ditujukan kepada anda, manakah yang akan anda pilih?

Pilih jadi 'karyawan besar' atau 'bos kecil'?

Hidup adalah pilihan, termasuk dalam hal mencari uang. Ketika anda dihadapkan pada 2 pilihan, yakni menjadi 'karyawan besar' atau menjadi 'bos kecil' -- yang manakah yang akan anda pilih?

Sebenarnya jawaban dari pertanyaan di atas relatif, alias tidak semua orang memilih pilihan yang pertama, dan tak semua orang memilih pilihan yang kedua. Hal itu dikarenakan tiap orang memiliki mental dan visi yang berbeda-beda.



Apabila seseorang memiliki mental 'main aman', maka menjadi 'karyawan besar' adalah pilihan yang paling mungkin. Dengan menjadi 'karyawan besar', maka gaji pun besar. Namun, dia harus siap menghadapi tekanan kerja, target kerja, persaingan antar karyawan, waktu kerja yang kadang bisa lembur, dan lain sebagainya.

Tapi ya itu tadi, seberat-beratnya tekanan kerja, mereka memiliki 'kepastian' dalam hal penghasilan. Setidaknya tiap awal bulan, gaji akan masuk ke rekening mereka, dan segalanya berjalan dengan stabil.

Lantas, bagaimana dengan pilihan kedua ('bos kecil')?

Orang-orang yang memilih menjadi 'bos di usaha yang kecil' ketimbang menjadi 'karyawan dengan jabatan yang tinggi' biasanya tergolong orang yang tidak suka tekanan kerja, namun berani memulai segalanya dari nol. Ya, pebisnis kecil harus siap dengan segala resiko dalam memulai bisnisnya, yakni harus siap merintis, harus siap tanpa adanya kepastian dari segi penghasilan, harus siap kerja siang malam, harus siap gagal, dan lain sebagainya.

Namun, dibalik segala kesulitan tersebut, mereka memiliki visi dan keyakinan bahwa usaha yang mereka rintis tak selamanya berstatus 'usaha kecil'. Mereka yakin bahwa usahanya akan terus bertumbuh hingga menjadi besar. Mereka yakin suatu saat mereka bisa mempekerjakan karyawan, dan mereka tinggal 'menunggu setoran'. Mereka yakin kalau mereka bakal merasakan yang namanya passive income. Dan yang terpenting, mereka-mereka ini begitu mencintai yang namanya TANTANGAN!

Itulah dia gambaran yang teramat singkat, mengenai pilihan 'menjadi karyawan dengan jabatan yang tinggi', atau menjadi 'bos di usaha yang kecil'.

Setelah menyimak gambaran di atas, manakah yang akan anda pilih? Jadi 'karyawan besar', atau 'bos kecil'?

Silahkan berikan jawaban anda di kolom komentar! Ingat, apapun pilihan anda -- itu sama-sama baik. Keduanya sama-sama bertujuan untuk mencari uang/rezeki, dan itu lebih baik ketimbang menjadi pengangguran yang pemalas :).

Salam sukses!

sumber : http://www.onlenpedia.com/2016/12/pilih-mana-jadi-karyawan-dengan-jabatan.html



Anda seorang yang tengah merintis bisnis?

Apabila ya, maka anda (mungkin) saat ini tengah berada di tahapan 'proses' untuk mencapai suatu 'hasil'.

Banyak dari mereka yang memulai sesuatu bisnis -- ingin cepat mendapatkan hasil dan mengabaikan sebuah proses. Padahal sebenarnya 'proses' itu jauh lebih bernilai ketimbang 'hasil'.

Mengapa bisa demikian?

Jawabannya bisa dilihat pada 3 hal berikut ini.

Apa sajakah 3 hal yang dimaksud?

1. Perjuangan membuat segalanya lebih hidup


Pernahkah anda merasakan hidup yang membosankan?

Apabila pernah, itulah indikasi bahwa anda tak memiliki tujuan hidup, atau tidak ada goal dalam hidup anda.

Ketika tidak punya tujuan hidup, maka hidup terasa hampa, basi, dan suka mikir yang tidak-tidak. Saat itulah, orang-orang 'berpotensi' terjerumus ke hal-hal yang negatif, seperti n*rkoba, mir*s, s*x bebas, dan lain sebagainya -- lantaran ingin 'mengisi' hidup mereka yang serba boring.



Maka dari itu, milikilah kesibukan dalam bentuk 'proses merintis kesuksesan'. Dengan diisi kesibukan, maka hidup anda akan lebih positif dan memiliki tujuan yang jelas.


2. Proses bisa menciptakan inovasi yang tak terduga


"Semakin panjang proses yang dijalani, semakin banyak inovasi yang akan tercipta."

Ya, hal itu benar adanya!

Ketika proses semakin lama, banyak kesalahan yang terjadi -- banyak pula inovasi yang tercipta. Bukan tidak mungkin, tujuan awal (yang biasa saja) akan 'berevolusi' menjadi tujuan (yang lebih besar) -- lantaran adanya inovasi 'di tengah jalan'. Semua itu karena 'potensi' dari 'proses' -- yang berpeluang menciptakan banyak 'penemuan baru' yang tak terduga.


3. Ketika berhasil, kenangan ketika berjuang -- akan terasa sangat indah


Di sinilah letak 'proses perjuangan' terasa sangat berharga. Semakin lama proses berlangsung, dan semakin 'menyiksa' perjuangan yang harus dilalui -- maka semakin indah 'rasa' kesuksesan yang dicapai (ketika berhasil). Selain itu, kenangan akan proses perjuangan yang tak kenal lelah -- akan menjadi 'cerita indah' bagi anak dan cucu kita -- ketika kita sukses.

Maka dari itu, seberat-beratnya proses yang dilalui hari ini, nikmatilah setiap momennya -- karena bisa jadi hari ini adalah 'hari yang penuh sejarah' -- yang akan selalu dikenang di masa yang akan datang.

Itulah dia 3 hal yang menjelaskan kenapa 'proses' itu jauh lebih berharga, bernilai, dan berkesan ketimbang 'hasil'. Ketika kita berada dalam 'proses perjuangan', maka kita akan memiliki tujuan yang jelas dan harus dicapai. Dan apabila semua itu bisa tercapai, maka 'proses' yang telah lewat -- akan menjadi 'cerita indah yang tak akan terlupakan'.

Ayo, hargailah setiap proses yang kita lalui, nikmatilah setiap momennya, dan teruslah memiliki tujuan yang jelas -- dalam mengarungi kehidupan!

Semoga bermanfaat!


sumber : http://www.onlenpedia.com/2016/10/3-hal-yang-membuat-proses-lebih.html


Lesunya perekonomian saat ini -- harusnya bisa menjadi pendorong agar segera memulai bisnis.

Kenapa harus memulai bisnis?

Tujuannya, yaitu untuk antisipasi kalau-kalau suatu saat terkena PHK. Atau bisnis juga bisa dijadikan sebagai penghasilan sampingan, jadi kerja sambil menjalankan bisnis, agar kita bisa 'bertahan' di tengah harga-harga barang yang terus melonjak.

Bicara soal memulai bisnis, terkadang ada saja hal-hal yang membuat kita ragu dalam memulai bisnis, sehingga bisnis tak kunjung dijalankan. Istilahnya adalah 'kalah sebelum berperang'.

Berkenaan dengan hal di atas, di artikel ini kami akan merangkum 3 hal yang umumnya menjadi penyebab keraguan orang-orang dalam memulai bisnis.

Apa sajakah itu?

1. Minimnya modal


Inilah penyebab utama kenapa orang-orang tidak kunjung menjalankan bisnis. Minimnya modal menjadi alasan (baca: 'dalih') mereka sehingga tidak bisa memulai bisnis. Padahal kendalanya bukan di sana, melainkan ada pada KOMITMEN!

Apabila komitmen masih kurang mantap, maka ada saja yang dijadikan alasan yang membuat bisnis tak kunjung dijalankan. Padahal kalau KOMITMENNYA (untuk berbisnis) mantap, maka minimnya modal bukan halangan lagi.

Ada banyak cara untuk bisa mendapatkan modal, yakni dengan:

- menabung
- meminjam uang dari kerabat (usahakan tanpa bunga)
- melalui koperasi
- meminjam di bank syariah
- dan lain-lain.

Sebenarnya, ada juga bisnis yang bisa dijalankan dengan modal minim, jadi tak harus menunggu banyak modal baru memulai bisnis. Contoh-contohnya yaitu:



- jualan gorengan
- jualan pulsa
- bisnis online
- bisnis perantara (makelar) properti
dan lain-lain.

2. Takut gagal


Penyebab selanjutnya adalah, ketakutan (baca: 'phobia') dengan yang namanya kegagalan.

Memang betul, kegagalan adalah hal yang sangat menyesakkan, dan tentunya dihindari semua orang. Namun, dibalik kegagalan sebenarnya banyak 'ilmu dan inovasi baru' yang kita dapatkan. Dengan kegagalan, kita bisa belajar banyak hal, dan bisa menjadi bahan koreksi untuk langkah selanjutnya.

Selain itu, setiap orang pasti memiliki 'jatah gagal' nya masing-masing. Alangkah baiknya gagal di awal, kemudian sukses. Daripada bisnis sukses di awal, namun kemudian jatuh.

Jadi, dapat disimpulkan kalau kegagalan bukanlah hal yang harus ditakuti. Anggap saja kegagalan adalah sebuah KEHARUSAN dalam berbisnis, agar anda siap menerimanya kapan saja.


3. Terbiasa hidup 'stabil'


Yang namanya kebiasaan memang sulit untuk dirubah. Sebagai contoh, ketika anda terbiasa hidup 'stabil' sebagai karyawan, di mana gaji selalu dibayar dengan rutin tiap akhir bulan, dan kerja pun normal 'pergi-pagi pulang-sore' -- ketika anda mulai merintis bisnis, maka 'kestabilan' tersebut akan menghilang dari kehidupan anda. Tidak ada lagi penghasilan yang 'pasti', tidak ada lagi jam kerja yang 'teratur', dan anda harus selalu berfikir bagaimana agar besok bisa makan. Mungkin itulah, yang menjadi salah satu penyebab keraguan orang-orang dalam berbisnis.

Maka dari itu, apabila anda MANTAP dalam memulai bisnis -- usahakan agar anda SIAP menghadapi 'ketidakstabilan', 'ketidakteraturan', dan 'ketidakpastian' dalam hidup anda. Apabila anda TIDAK SIAP, maka jangan coba-coba untuk memulai bisnis! Ingat, bisnis bukanlah untuk 'keren-kerenan' semata. Ada tujuan yang harus anda capai, demi masa depan yang lebih baik untuk anda dan orang-orang yang anda cintai.


Memulai bisnis memang tidak mudah. Ada saja keraguan dan ketakutan yang muncul, sehingga anda sudah 'K.O. sebelum bertanding'. Namun, apabila anda memiliki KOMITMEN yang kuat, maka segala keraguan yang timbul hanya 'angin lalu' saja.

Maka dari itu, yakinkanlah hati anda terlebih dahulu, baru memulai bisnis!

sumber : http://www.onlenpedia.com/2017/02/3-hal-ini-yang-kadang-membuat-kita.html


Modal utama dalam berbisnis bukanlah uang. Meskipun penting, namun modal uang masih kalah dengan modal karakter yang dimiliki si pebisnis. Sudah banyak pebisnis yang mengandalkan modal uang, namun akhirnya harus collapse. Sebaliknya, banyak pebisnis bermodal minim -- namun dengan karakter yang kuat -- ia mampu membangun bisnisnya dari nol hingga sukses besar.

Bicara soal karakteristik seorang pebisnis, di sini akan dipaparkan mengenai 3 karakter yang harus anda miliki apabila anda ingun membangun bisnis. Jadi sebelum anda membangun bisnis, pastikan kalau anda memiliki atau sedang membangun karakter-karakter berikut ini.

Lantas, apa sajakah karakter-karakter yang dimaksud?

1. Karakter pekerja keras (ulet)

Apalah artinya punya banyak modal namun pemalas. Lambat laun usaha yang dijalankan akan gagal, lantaran dijalankan oleh sosok dengan karakteristik yang tidak tepat -- yakni pemalas.

Apabila anda ingin membangun bisnis, maka anda harus memiliki karakter pekerja keras (ulet). Apalagi ketika membangun bisnis dari nol, tentu usaha yang anda lakukan harus berkali-kali lipat lebih keras -- dengan 'jam kerja' yang jauh lebih banyak dari karyawan. Apabila anda siap melakukannya, maka anda pantas untuk menjadi seorang pebisnis.


2. Tidak berhenti untuk belajar

Karakter selanjutnya adalah, tidak pernah berhenti untuk belajar. Hidup adalah tempat belajar yang tak pernah usai. Apabila anda merasa diri anda sudah pintar, maka anda akan sulit untuk menerima hal-hal baru, seperti inovasi dan kreasi baru.

Maka dari itu, jadilah sosok yang bagaikan 'gelas kosong', agar anda mau terus belajar tanpa pernah merasa pintar. Dengan kemauan untuk belajar, maka penyerapan ilmu akan lebih mudah, dan inovasi baru akan muncul dari diri anda.


3. Tidak cepat puas

Seorang pebisnis sejati tak akan pernah puas dengan pencapaiannya. Apabila sedikit saja ia merasa puas dan berleha-leha, maka kompetitor akan mengejar dan melewatinya dengan seketika.

Hal inilah yang terjadi pada Nokia pada masa jayanya. Kala itu mereka merasa puas dengan pencapaiannya dan tak memperhatikan apa saja yang dilakukan para kompetitornya. Akibatnya, kompetitor-kompetitor mereka seperti Apple dan Samsung akhirnya mengejar dan sekarang jauh melewati mereka. Nokia pun 'tewas', dan para kompetitornya berjaya.

Melihat apa yang terjadi pada Nokia, kita harus menjadi sosok yang tak cepat puas. Jangan pernah berhenti melakukan riset, inovasi, dan terobosan.

Jadilah seperti Bill Gates yang berprinsip untuk 'beberapa langkah di depan' dari para kompetitor. Meskipun sudah di depan, Bill Gates tetap berinovasi guna meninggalkan kompetitornya lebih jauh lagi.


Itulah dia penjelasan mengenai 3 karakter yang harus anda miliki ketika membangun bisnis. Penting sekali untuk menanamkan 3 karakter di atas untuk anda, karena kalau mengandalkan modal uang -- tidak akan menjamin kesuksesan.

Maka dari itu, tanamkanlah karakter pekerja keras, tidak berhenti untuk belajar, serta tidak cepat puas. Tujuannya agar 'pondasi' bisnis anda semakin kuat, dan mampu melewati berbagai proses yang cukup berat dalam membangun bisnis anda.



sumber : http://www.onlenpedia.com/2017/04/3-karakter-yang-harus-anda-miliki-dalam.html



Hidup memang memiliki banyak hal yang harus dipenuhi. Kebutuhan hidup utamanya yang menjadi hal pokok untuk dipenuhi, agar kita bisa hidup seperti orang (makan, memiliki pakaian dan rumah).

Banyak orang yang penghasilannya tidak terlalu besar, namun dia merasa cukup dan selalu bersyukur. Akan tetapi, ada juga orang yang sudah kaya raya -- tetapi masih kekurangan uang. Mengapa bisa demikian?

Jawabannya adalah, karena mereka ingin memenuhi tuntutan 'gaya hidup', bukan tuntutan hidup. Alhasil, karena mengikuti gaya hidup kaum sosialita yang serba mewah, justru membuat dirinya tersiksa sendiri, merasa serba kekurangan dan tidak pernah bersyukur. Padahal penghasilannya sudah lebih dari cukup.

Untuk itu, perlu untuk menanamkan dan mengamalkan kata-kata, "Jangan memandang ke atas, karena akan menyakitkan. Lebih baik memandang ke bawah." Itu adalah contoh falsafah hidup sederhana, karena kita akan bersyukur apabila yang kita lihat adalah mereka yang kurang beruntung daripada kita. Dan memang di luar sana sangat banyak orang yang hidupnya lebih berat daripada kita, namun mereka terlihat bahagia dalam rasa syukur dan damai. Sebaliknya banyak orang kaya yang hidupnya tidak bahagia, entah kenapa saya juga tidak tahu.

Ada salah satu kisah inspiratif yang sangat menggugah batin saya. kisah ini menceritakan tentang gaya hidup sederhana yang juga diterapkan oleh salah satu orang terkaya di dunia bernama Warren Buffet. Meskipun kaya raya, dia hanya mengambil uang beberapa puluh juta saja pertahun (untuk biaya hidup).

Rumahnya pun sangat sederhana, begitu juga gaya hidupnya. Dan semua anak-anaknya tidak pernah dimanjakan. Warren selalu mendidik anak-anaknya untuk bekerja keras, demi kebaikan mereka kelak. Warren juga mengajarkan pentingnya hidup sederhana kepada anak-anaknya.

Satu hal yang sangat luar biasa dari sosok Warren Buffet, dia adalah orang yang sangat dermawan, sama seperti sahabatnya yang juga salah satu orang terkaya di dunia bernama Bill Gates. Keduanya tercatat sudah mendonasikan lebih dari 60% harta kekayaannya untuk yayasan-yayasan amal di bidang kesehatan, pendidikan dan kemanusiaan. Mereka tak segan merogoh koceknya untuk orang lain yang kurang beruntung. Sangat luar biasa bukan ?

Saya sangat salut melihat gaya hidup Warren Buffet yang sederhana itu. Padahal harta kekayaannya sangat berlimpah. Sebaliknya saya sangat miris melihat beberapa orang yang penghasilan tak seberapa, namun gaya hidupnya mewah ala sosialita. Ironis dan sungguh terlalu dipaksakan -- alias menyakiti diri :D..

Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa, yang membuat hidup menjadi berat bukanlah tuntutan hidup -- melainkan karena tuntutan 'gaya hidup'. Cerita di atas juga memberikan inspirasi bagi kita, bahwa sosok yang kaya raya seperti Warren Buffet saja hidupnya sangat sederhana. Dan sebagian besar harta kekayaannya justru disumbangkan untuk keperluan amal. Andai orang kita sekaya pak Warren, mungkin uangnya habis buat berfoya-foya kali ya ?

Sekian dahulu ulasan dari saya tentang tuntutan 'gaya hidup' yang membuat hidup menjadi berat. Saya menganjurkan agar sobat-sobat menanamkan pola hidup sederhana sedari sekarang. Sehingga apabila nantinya sudah sukses, sobat-sobat tak akan terlalu sayang dengan harta, apalagi untuk keperluan amal. Karena harta yang baik adalah harta yang didedikasikan untuk amal -- sebagai tabungan kita di akhirat kelak.

Semoga bermanfaat!


sumber : http://www.onlenpedia.com/2015/06/tuntutan-hidup-tidaklah-berat-yang.html



Dunia bisnis sangat erat kaitannya dengan persaingan. Hampir semua bidang bisnis, selalu diisi oleh lebih dari satu pemain. Alhasil, persaingan pun tak dapat terelakkan dan justru semakin ketat dari waktu ke waktu.

Lantas, bagaimana cara menyikapi persaingan bisnis yang kian ketat ini?

Jawabannya, mungkin anda bisa mencoba 3 cara berikut ini!

1. Jangan mundur


Jangan pernah sekalipun untuk mundur!

Apabila anda mundur dari persaingan, sama saja anda menyatakan 'kalah sebelum bertempur'.

Siapkan mental, energi, dan strategi yang jitu untuk menghadapi kompetitor anda. Lakukan yang terbaik sebatas yang anda bisa, agar bisa bersaing atau bahkan memenangkan persaingan dari kompetitor anda.

Ingat, bisnis yang memiliki kompetitor menandakan bisnis tersebut menjanjikan. Sebaliknya, apabila bisnis tersebut tak memiliki kompetitor -- artinya bisnis tersebut belum tentu bagus untuk dijalankan. Maka dari itu, TERIMA-lah segala bentuk persaingan bisnis, karena hal itu sangat mutlak terjadi dalam dunia bisnis.

Note: Pengecualian, apabila anda memiliki kompetitor dengan 'kelas' dan 'level' yang berbeda dari bisnis anda, baik dari permodalan, jumlah tim, dan kekuatan brand. Apabila anda memiliki kompetitor yang levelnya jauh di atas anda, maka secara realistis lebih baik anda mundur saja. Sia-sia saja kalau anda bersaing dengan bisnis level 'raksasa', karena anda pasti kalah. Lebih baik anda mundur, dan mencari ide bisnis baru -- yang pesaingnya tidak jauh levelnya dari 'level' bisnis anda.

2. Perhatikan 'gerak-gerik' kompetitor anda secara terus-menerus


Persaingan bisnis mengharuskan anda untuk terus 'melek' dan melihat apa saja 'gerak-gerik' kompetitor anda, seperti inovasi yang mereka lakukan, harga jual yang mereka tawarkan, promosi yang mereka jalankan, dan lain sebagainya. Apabila anda berjalan sendiri (sok tau) dan menutup mata dengan 'gerak-gerik' kompetitor anda, maka siap-siap nasib anda akan seperti Nokia -- yang harus tersingkir dari persaingan di ranah handphone.

Contoh perusahaan yang kerap mengamati 'gerak-gerik' kompetitornya adalah media sosial kenamaan -- Instagram. Sang rival, yakni Snapchat -- kerap menghadirkan fitur dan inovasi baru untuk pengguna mereka. Instagram pun akhirnya 'meniru' inovasi yang dilakukan Snapchat, agar mereka tetap bisa survive. Salah satu fitur Instagram yang 'meniru' dari Snapchat yakni adanya fitur story di platform mereka.


3. Buatlah suatu 'pembeda' antara bisnis anda dengan bisnis kompetitor anda


Persaingan bisnis tak harus 'mengkopas mentah-mentah' (meniru sama persis) kompetitor anda. Anda harus menerapkan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) pada bisnis anda, agar tidak sama persis dengan bisnis pesaing anda.

Buatlah sebuah 'pembeda' antara bisnis anda dengan bisnis kompetitor anda, agar bisnis anda memiliki 'ciri khas' yang mudah diingat konsumen. Semakin unik dan inovatif bisnis anda, tentu akan semakin bagus -- asalkan tidak merubah konsep dasar bisnis anda.

Sebagai contoh, misalnya anda memiliki usaha restoran dengan menu andalan ayam bakar -- dan anda memiliki sejumlah kompetitor. Agar 'berbeda' dari kompetitor anda, anda bisa menambahkan konsep interior restoran -- misalnya ala-ala bajak laut, atau tema lainnya (sesuai kreasi anda). Kemudian anda juga bisa menambahkan variasi menu yang berbeda, misalnya ayam bakar madu, ayam bakar lada hitam, ayam bakar super pedas, dan lain-lain. Untuk marketing, anda juga bisa mengkombinasikan strategi promosi anda via internet, misalnya melalui Instagram.

Intinya, buatlah bisnis anda berbeda dari kompetitor anda, namun tidak merubah konsep dasar (menu yang dijual).

Persaingan memang suatu keharusan dalam dunia bisnis. Jangan pernah takut, apalagi 'kalah sebelum berperang' -- hanya karena sebuah persaingan. Ingat, semakin banyak pesaing dalam suatu bisnis, itu menandakan bahwa bisnis tersebut memiliki 'pasar yang menjanjikan'. Jadi, tetaplah berada di jalur anda, karena yang konsisten-lah yang mampu bertahan sampai 'garis finish'.


sumber : http://www.onlenpedia.com/2017/07/bagaimana-cara-terbaik-menyikapi.html

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget