Latest Post



Melihat sampah yang berserakan tentu membuat kita merasa gak enak, solusinya adalah membuang ke tempat sampah. Namun jangan asal sembarang membuang sampah. Secara, umum di berbagai negara yang memiliki sistem pengolahan sampah yang baik termasuk Indonesia, membedakan tempat sampah berdasarkan warnahnya. Tempat sampah tersebut berfungsi untuk memisahkan jenis sampah organik, non organik, B3, kertas dan residu. Saatnya kita untuk mengenal jenis-jenis tempat sampah tersebut yang di bedakan atas 5 jenis yakni :

1. Warna Hijau

Tempat sampah organik di tandai dengan warna hijau dan bertuliskan organik, sampah inilah yang dijadikan bahan pupuk kompos seperti daun-daunan, bekas sayuran, dll. Adanya tempat sampah ini dapat mempercepat pembuatan kompos karena sudah di pisahkan dengan sampah anorganik maupun B3.

2. Warna Kuning

Tempat sampah non organik di tandai dengan warna kuning bertuliskan non organik, seperti plastik bekas, gelas bekas air mineral kemasan jenis plastik dll. Dengan adanya tempat sampah ini dapat mempermudah pemanfaatannya sebagai kerajinan daur ulang atau di daur ulang di pabrik.

3. Warna Merah

Tempat sampah B3 di tandai dengan warna merah bertuliskan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), seperti sampah beling, kaca, gelas beling, bekas detergen, obat nyamuk dll. Dengan adanya tempat sampah ini agar tidak membahayakan bagi orang lain.

4. Warna Biru

Tempat sampah khusus kertas ditandai dengan warna biru. Dengan bertuliskan kertas pada tempat sampahnya. Salah satu manfaatnya adalah untuk untuk mempermudah proses daur ulang untuk kerajinan.

5. Warna Abu-Abu

Tempat sampah yang terakhir adalah warna abu-abu dengan tulisan residu. Artinya, tempat sampah ini hanya boleh di isi sampah-sampah selain 4 jenis tersebut diatas. Semoga apa yang telah disampaikan dapat bermanfaat, sehingga kita semakin peduli dan mencintai lingkungan sekitar kita.

Heemm namun permasalahannya tempat sampah di tempat kita pasti masih banyak dengan model satu tempat sampah, maka oleh sebab itu kami dapat memberikan info bagi anda yang memerlukan Tempat Sampah model warna-warni tersebut. Raja Plastik memiliki banyak sekali model tempat sampah yang anda perlukan. Dengan kualitas High dan harga yang pas untuk anda yang low budget.



sumber : http://www.hipwee.com/list/5-jenis-warna-tempat-sampah-yang-perlu-kita-tahu/


Pemerintah sedang mengupayakan energi terbarukan supaya tidak tergantung lagi kepada energi fosil, seperti minyak, batu bara, dan gas. Pasalnya, lama-lama energi fosil ini akan habis.

Masyarakat dunia, termasuk Indonesia, sangat bergantung kepada listrik. Nah, listrik yang dihasilkan oleh pembangkit di Indonesia rata-rata berbahan bakar batu bara.

Semakin boros penggunaan listrik, maka semakin cepat pula bahan bakar tersebut habis. Jika bahan bakar habis, bisa jadi tak ada lagi listrik yang bisa memanjakan rakyat Indonesia.

Apalagi sampai saat ini peran energi terbarukan di Indonesia belum besar. Maka dari itu, tidak ada salahnya jika kita membantu pemerintah dengan menghemat energi dari sekarang.

"Sebenarnya banyak cara untuk menghemat energi, cuma masalah awareness (kesadaran) saja," kata Direktur Utama PT Energy Management Indonesia (EMI), Aris Yunanto, ketika berkunjung ke kantor detikcom, Rabu (22/4/2015).

EMI adalah perusahaan pelat merah yang yang bergerak dalam bidang manajemen energi dan konservasi air. Aris pun memberikan beberapa tips sederhana untuk menghemat listrik di rumah.

Penghematan bisa dimulai dari pengatur suhu ruangan alias air conditioner (AC), karena menurutnya sekitar 50% kebutuhan listrik di rumah biasanya berasal dari AC.

"Kalau mau hemat jangan begitu menyala langsung diturunkan suhunya, stabil saja di 24 atau 25 derajat celcius," ujarnya

Operation Divition Head EMI, Gunawan Wibisono, menambahkan setiap suhu udara diturunkan itu ada tambahan penggunaan listrik sebanyak 6%. Jadi misalnya diturunkan dari 24 ke 18 sekaligus, maka ada tambahan penggunaan 36% daya listrik.

"Jadi sebaiknya satu jam dibiarkan menyala dulu sebelum ruangannya dipakai," kata Gunawan.

Selain itu, tambah Aris, peralatan elektronik yang dalam posisi standby, misalnya televisi atau perangkat audio, itu masih memakan listrik hingga 80% dari daya ketika hidup.

"Waktu standby itu dia masih menyedot listrik, sekitar 80% dari daya listrik normalnya. Sebaiknya memang dicabut saja colokannya kalau sudah tidak digunakan," kata Aris.

Jika repot cabut-mencabut colokan, bisa memakai terminal listrik yang ada tombol on/off-nya. Sehingga ketika selesai menonton televisi tinggal ditekan saja.

Colokan lain yang masih memakan listrik ketika tidak dicabut adalah perangkat pengisi daya telepon selular (ponsel) alias charger. Sampai saat ini masih banyak orang yang membiarkan colokan charger terpasang setelah selesai mengisi daya.

"Charger itu kan isinya kumparan, jadi selama terpasang akan terus memutar listrik di situ. Tanpa HP-nya itu sekitar 30% dari normal daya listriknya. Jadi kalau misalnya colokan 5 ampere, jadi begitu selesai dan tidak dicabut masih ada sekitar 2 ampere yang terus dipakai," kata Gunawan.

Anda mungkin bisa mulai mempraktikkan tips-tips sederhana ini di rumah. Coba rasakan penghematannya dalam beberapa hari ke depan.

sumber : https://finance.detik.com/energi/2895636/percaya-atau-tidak-hal-sepele-ini-bisa-bikin-tagihan-listrik-anda-berkurang



Berapa sering kita kadang menertawakan bahkan meremehkan sebuah ide? Pertama kali Kripik Ma Icih muncul dan dibuat mungkin banyak orang yang tersenyum menertawakan ide tersebut "jualan kripik pedes?" bukannya sudah biasa, dari jaman dulu juga sudah banyak yang jual kripik pedas, dan bahkan mungkin kalo saat itu kita mendengar harga jualnya bisa lebih geleng-geleng kepala lagi kita, yang di warung 1 bungkus cuma 500 - 1 ribu rupiah tiba-tiba di jual belasan ribu "sepertinya kurang masuk akal" mungkin dalam pikiran kita.

Contoh lain, ketika saya ingin berbisnis nasi goreng, banyak sekali yang "mempertanyakan" kalo tidak mencemooh ide bisnis ini, "ga salah bro nasi goreng?", bahkan ada yang mempertanyakan ngapain ajah belasan tahun jadi konsultan brand dan marketing eh malah bisnisnya nasi goreng haha, sebuah ide yang mungkin terlalu sederhana dan "biasa" untuk level seorang brand consultant mungkin menurut beberapa rekan saya tersebut

Ada lagi temen yang komen ketika saya punya ide untuk jual Susu Murni, "lah segitu banyak yang jual susu murni di pinggir jalan bandung dengan harga hanya kisaran 5000-8000 terus mau buka susu murni juga?" "Susah dong bersaingnya sama lagian marginnya juga ga gede-gede amat, di mana sisi prospeknya bro"?. Hehe kalo kita melihat bisnis dari kaca mata awam marketing yah semua ide bisnis pasti sulit ajah "scaleable" dan selalu punya point yang kurang menariknya, apa artinya cuma jual tutup botol dgn untung Rp.5, tapi ceritanya akan lain kalo tutup botol yang dijual quantity nya 1 juta tutup botol per hari, masih mau bilang ga menarik?

Belajar dari banyak kesempatan dan melakukannya sendiri akhirnya saya mengerti mengapa jargon bahwa "Ide itu Mahal" adalah betul adanya, terlepas ide itu terlihat sangat sepeleh atau terkesan sangat luar biasa, pada intinya tetap saja ide itu mahal, asal ... yah tentu ada syaratnya, beberapa hal yang akhirnya membuat sebuah ide itu menjadi sangat mahal.

1. Ada yang bekerja untuk merealisasikannya


Yah ini syarat paling utama sebuah ide akan menjadi sangat mahal, ketika ada yang berkerja dengan ide tersebut dan merealisasikannya menjadi "nilai". Ketika dulu saya punya Ide untuk membuat nasi goreng katakanlah, bertahun-tahun it just an idea colletion, tidak ada nilai karena hanya dibicarakan di share dari seminar ke seminar lainnya, namun ketika saya mulai berkerja dengan ide tersebut, Alhamdullilah jadilah sebuah bisnis yang bisa berkembang sampai saat ini sudah memasuki 9 cabang dalam 6 bulan @nasgormafia

Dulu ketika Bill Gates punya ide untuk membuat spreadsheet (Word, Excell, Powerpoint dll) mungkin sampai hari ini semua itu hanya ide jika Bill Gates tidak berkeja keras dengan ide tersebut untuk direalisasikan dan lebih buruk lagi mungkin malah orang lain yang bekerja dengan ide tersebut dan malah sukses, untungnya Bill gates berkerja dengan ide tersebut dan akhirnya seperti sekarang menjadi sangat sukses dan digunakan seluruh dunia.

Jadi ketika kita memiliki idea, entah itu dibilang orang mainstream atau kreatif gila sekalipun, mulailah bekerja dengan ide tersebut agar bisa direalisasikan, ingat bukan kita saja yang mungkin terpikir ide tersebut, bisa jadi banyak orang juga terpikir dan mereka mulai bekerja dengan ide tersebut sejak SEKARANG.

2. Bangun Differenasiasi 

Ide untuk membuat Gorengan  (jual pisang goreng, tahua goreng, bala-bala) mungkin terlihat terlalu sederhana dan tidak menarik, berapa untungnya? bahkan seorang peserta seminar sempat bertanya "khan udah banyak pak yang buat bisnis gorengan, setiap dipinggir jalan sudah banyak yang jual? Kok idenya ga kreatif?"

Nah coba saya luruskan dulu, apa defini kreatif? Buat saya defini kreatif itu sederhana, karena ini bisnis artinya saya harus bisa mendapatkan profit sebesar-besarnya dan sustain (kontinue), ok kembali ke bisnis gorengan, saya tanya sama Anda "goreng apa yang sudah terkenal di kota Anda yang punya 30 cabang di kota Anda?", percayalah Anda akan sulit menjawab pertanyaan saya ini, sekarang saya lanjutnya, kalo setiap Gerobak Gorengan menghasilkan untuk 50 ribu ajah untuk Anda per hari, yang artinya 50 ribu x 30 gerobak = 1.5 juta per hari kemudian di kali 30 hari, berapa duit yang Anda terima dalam 1 bulan? Yah 45 juta masih berpikir ini kurang kreatif?

Yah dalam bisnis ukuran utama kreativitas bagi saya adalah UNTUNG, kalo punya ide, mau sehebat apapun kalo pada akhirnya tidak mendatangkan untung yang buat apa, namun sebaliknya ide sederhana jual ayam bakar tapi kemudian bisa berkembang seperti ayam bakar Mas Mono dan menghasilkan untuk besar, nah ini baru namanya kreativitas.

3. Cepatlah Realisasikan

Ide Anda bisa bernilai sangat tinggi ketika Anda berkerja, merealisasikan dan berhasil dengan ide tersebut, namun ide itu kemudian tidak akan ada artinya jika tidak atau lambat di realisasikan di mana malah orang lain yang lebih dulu merealisasikan ide tersebut.

Sebagai brand consultant sebelum Ma Icih muncul saya sudah lama terpikir untuk membuat kripik pedas yang di branding dengan massive (Tapi jujur tidak terpikir untuk menggunakan level pedas, dan untuk satu ini yang menciptakan Ma Icih patut di acungin empat jempol), namun ide tersebut tidak pernah saya realisasi karena berbagai kesibukan dan juga akhirnya lupa sampai kemudian Maiich Heboh, saat itu saya hanya bisa berguman "sial padahal udah keidean dari beberapa tahun lalu", yah cuma bisa berguman dan menyesali "kenapa ga gua kerjakan dulu", setidaknya secara brand sudah terkenal bisa langsung ikut trend level pedas, tapi yah sudahlah, itulah kalo cuma OMONG tapi tidak ada REALISASI.

Jadi jika Anda memiliki sebuah ide, cepatlah realisasikan ide tersebut, jika tidak memungkinkan sendiri carilah partner dan bisa masih banyak keraguan carilah mentor untuk lebih mempertajam ide tersebut kemudian menjadikannya sebuah ide yang MAHAL.



sumber : 



Minggu lalu saya berkesempatan untuk referesh Ilmu dengan menghadiri acara Marketing Club di markas besar Google Indonesia di Jakarta, jujur saja kadang dengan berbagai kesibukan yang ada setiap hari mungkin cukup banyak pebisnis seperti saya yang sampai tidak ada waktu untuk terus belajar secara teknis mengenai berbagai ilmu bisnis yang ada saat ini, yah tentu dalam konteks pebisnis bukan kemudian tidak belajar sama sekali namun referensi ilmu yang ada mungkin saat ini lebih banyak memenuhi kepala karena pengalaman setiap hari dengan bisnis dan bertemu dengan banyak orang yang finally ilmunya secara tidak langsung ikut terserap. Nah kesempatan berkumpul dengan teman-teman marketing club ini sesuatu yang cukup "mahal" menurut saya apalagi pembicaranya Bpk. Godo yang sudah sangat terkenal di dunia marketing Indonesia blom lagi tempatnya di Google yang keren hehe.

Seminar ini dibuka dengan sebuah kalimat yang menurut saya cukup menarik, "Apa yang berubah dari Marketing? Dari dulu, sekarang ataupun di masa yang akan datang" ... coba pejamkan mata dan jawab pertanyaan di atas. Sudah? Yah ada 2 hal yang selalu berubah di dalam dunia marketing yaitu KONSUMEN dan TOOLS dan pada sisi inilah salah satu hal yg sangat menarik dalam dunia marketing dan inilah pulah yang membuat ilmu marketing selalu dinamis sampai kapanpun karena kita tidak akan atau mungkin bisa dikatakan jarang akan bertemu kondisi yang sama saat ini dibandingkan dengan masa lalu.

Cara berjualan mobil ke ayah saya mungkin akan sangat berbeda dengan cara berjualan mobil kepada saya atau bahkan generasi setelah saya. Dulu harapan orang membeli HP mungkin disebabkan oleh kebutuhan untuk melakukan telepon dan SMS, sekarang coba saya tanya berapa banyak yang Anda dari tadi pagi melakukan SMS atau bahkan menelepon? Mungkin sebagian besar kita selalu mengenggam dari tadi tapi aktivitas yang kita lakukan mungkin sudah berubah dari 5 tahun lalu yaitu Social media works (Whatsapp, facebook, twitter, path) dan sebagainya. Ini contoh bagaimana konsumen itu berubah dan hal ini menjadi PR penting bagi setiap marketer untuk bisa "menebak/ memprediksi" ke arah mana konsumen akan berubah dan kemudian bergerak mengisi kebutuhan dari konsumen tersebut.


Kemudia Pak Godo kembali mengajukan pertanyaan, btw ini yang saya suka, ketika seminar ada interaksi antara pembicara dan peserta apalagi bisa dikatakan peserta yang datang (terbatas) 20 orang bukanlah manusia biasa hehe, mosthly adalah orang-orang hebat di Industrinya dan punya knowledge yang tidak perlu diragukan lagi. Ok balik lagi, muncul pertanyaan yang biasa tapi luar biasa susah menjawabnya secara real di lapangan "Mengapa Orang MEMBELI dan TIDAK MEMBELI?". Hmm ini pertanyaan mendasar sekali bagi setiap bisnis, apapun bisnisnya, REASION TO BUY and NOT TO BUY, sesuatu yang WAJIB bisa dijawab oleh setiap markter tentunya.

Nah kalo saya jelaskan panjang lebar tentu ajah bisa nulis 10 halaman nanti hehe, tapi intinya ada 3 faktor interl dan 3 faktor eksternal yang membuat orang memutuskan untuk membeli atau tidak membeli

A. Faktor Internal

1. Need, wants & Expectation
2. Experience & Exposure
3. Personality & Character

B. Faktor Eksternal

1. Family Values
2. Social Groups
3. Cultures & Subculture

Sebagai marketer mempelajari dan melakukan riset secara berkala ke 6 hal di atas hukumnya adalah WAJIB, mengapa? LIhat bahasan di atas, karena KONSUMEN BERUBAH, Needs saya ketika SMA sudah tidak sama ketika saya kuliah, tipe cewe yang saya taksir sewaktu di SMP pun sudah tidak sama dengan tipe ketika saya kuliah hehe sehingga kegiatan marketing yang bisa dilakukan dahulu sudah atau mungkin tidak relevan lagi dilakukan saat ini untuk target market yang sama.

Ada 1 lagi bahasan yang menarik yang disampaikan oleh Pak Godo, basically saya pernah petakan dalam Creative Sales Credo yang saya dan teman-teman buat sebagai acuan dalam kegiatan marketing, Secara fundamental revenue setiap perusahaan bisa digenerate melalui proses seperti ini:

1. Buy Leads (Sekumpulan target market yg ingin dibidik)
2. Buy Now (membuat leads membeli produk kita... Convert to Customer)
3. Buy More (Membuat konsumen membeli lebih banyak)
4. Buy Often (Membuat konsumen membeli lebih sering)
5. Buy Recommendation (membuat konsumen merekomendasikan produk kita)

Nah sebetulnya dari sharing Pak Godo kita bisa mengkelompokan lagi aktivitas menciptakan revenue di atas dengan bahasa yang lebih sederhana yaitu 1. Customer Retention 2. Customer Aquitition 3. Value Optimization. Simpelnya bagaimana cara kita mempertahankan pelanggan yang sudah ada, begaimana cara kita menarik pelanggan baru dan bagaimana caranya kita meningkatkan nilai pelanggan yang sudah ada, 3 hal inilah yang menjadi focus utama dalam menciptakan pendapatan bagi perusahaan. Implikasinya apa di marketing plan kita? Implikasinya adalah setiap point punya titik berat strategi yang berbeda, punya nilai yang berbeda dan harus dieksekusi dengan cara yang juga berbeda.

sumber : http://creasionbrand.blogspot.co.id/2014/10/marketing-club-gathering-ilmu-mahal-nih.html



Suatu malam ketika saya masuk & mendekati showcase berisi makanan di Starbucks:

Barista  : Malam mba, mau pesan makanan apa?
Saya     : Oh, iya ini lagi agak bingung mau pilih2 dulu
Barista  : Sudah pernah coba quiches?
Saya     : Belum, apa ya itu?
Barista : Semacam adonan kue yang dipanggang........ (dan penjelasan ttg produk)
Saya     : Hmmmmm.......
Barista  : Mba suka nya yang manis atau yang asin?
Saya     : lebih suka asin sih, saya tertarik dengan cake nya
Barista  : kalau cake sih jatoh2 nya jadi manis juga sih, kalau quiches asin
Saya     : Boleh deh, saya coba quiches nya yang cheese satu ya

Barista  : Makan disini ya? Baik, akan saya hangatkan dulu ya

Dan setelah itu terciptalah pembelian kue bernama bernama quiches yang saya baru tahu kalau ada kue dengan nama itu.

Sepenggal transaksi dialog itu sebenernya suka atau tidak suka sering kita alami, dan secara sadar atau tidak sadar sebenarnya kita sebagai konsumen sedang di arahkan untuk membeli sebuah produk oleh tenaga penjual, dalam hal ini sang barista yang tentu saja dilengkapi dengan wajah ramah dan senyum manis.

Pernah satu kali dalam sebuah seminar ada speaker yang menanyakan: “ Apakah mungkin meningkatkan penjualan tanpa ada nya peningkatan budget promosi?” Sebagian besar peserta mengatakan TIDAK, tapi ternyata sang speaker memberikan contoh nyata bahwa ternyata meningkatkan penjualan tidak melulu bicara peningkatan budget promosi, contoh nyata nya yang sudah dilakukan oleh perusahaan skala dunia: McDonald, pernah kah kita sadar pada saat transaksi di McD diakhir transaksi sang kasir selalu menanyakan: “Kentang nya tidak sekalian?” NAH!! Hanya dengan kalimat ini, McD menciptakan tambahan penjualan sebesar 35jutadollar


Sebenarnya cara ini tidak terbatas hanya bisa dilakukan oleh bisnis kuliner saja, tapi juga bisnis lain, toko komputer misalnya. Terkadang kita tidak sadar sebagai konsumen kita seringkali diarahkan untuk mengkonsumsi lebih banyak, atau lebih sering, atau bahkan membeli produk2 pelengkap lain yang pada awal nya tidak kita butuhkan, hanya saja sebagai penjual seringkali kita kurang peka dengan hal-hal penting seperti ini. Berikut beberapa hal yang patut kita pertimbangkan untuk menjalankan progran seperti ini:

1. SOP yang detail

Ini bagian yang paling penting, bikin Standard Operation Procedure (SOP) yang sangat detil, kalau perlu sampai dengan script dan ketentuan mimik wajah. Jika bisnis kita sudah besar dan memiliki karyawan, sangat mustahil untuk memantau karyawan selama jam operasional, hal yang wajib kita lakukan adalah membuat standar sapaan dan script apa yang harus diucapkan ketika konsumen datang.

2. Deteksi kondisi

Dalam kasus saya di Starbucks, si barista ini sudah mengamati, saat itu saya hanya datang sendirian dan hanya ingin minum dan nongkrong untuk bekerja, dan sang barista manis ini mungkin mendeteksi kondisi ini. Konsumen hanya memesan minum saja, dan kondisi sudah agak malam, dengan suhu ruangan yang cukup dingin saat itu potensi konsumen memesan makanan tentunya cukup besar. Ditambah kondisi gerai yang tanpa antrian, maka terciptalah tambahan penjualan saat itu juga.

3. Cross Selling

Ada saat nya konsumen sebenarnya harus di remind dan ditawarkan untuk mengkonsumsi produk tambahan. Misal dalam cerita toko komputer, pada saat kita membeli laptop, jika si pramuniaga tidak menawarkan, mungkin konsumen hanya akan keluar dari toko nya dengan hanya membeli 1 buah laptop saja, tapi ketika si penjual diajarkan bagaimana cara menawarkan produk pendamping yang masih berhubungan dengan produk yang dibeli, maka bisa jadi konsumen keluar dengan: laptop + mouse + screen protector + tas + soft case

4. Reward & Punishment

Dari pengalaman, jika kita ingin menerapkan sebuah sistem, maka usahakan ada reward dan punishment. Jika hanya punishment saja, mungkin sistem yang diinginkan akan berjalan, namun kecil kemungkinan berjalan dengan baik. Karena biasanya karyawn tidak memiliki trigger untuk melakukan nya dengan baik. Maka sudah sewajarnya untuk pencapaian target tertentu kita bisa alokasi kan persentase bonus dari angka omset yang ada. Biacara reward tentunya kita juga harus bicara punishment, jika target tidak tercapai atau ada pelanggaran, tentunya ada sanksi yang harus duberlakukan.

Oh, ya terima kasih Barista Bryna untuk sapaan dan inspirasinya

sumber : http://creasionbrand.blogspot.co.id/2015/04/senyum-manis-kalimat-sakti-tambahan.html



"Keren yah inovasi Gojek mas, ga kepikir saya dari hanya jasa penyedian gojek eh tau-tau bisa masuk ke applikasi dan menjadi "perusahaan" gojek terbesar di indonesia bahkan dunia, blom lagi layanan-layanan juga inovatif banget, go-food, go-tix, go-massage dll, kok bisa yah kepikiran membuat ide inovasi seperti itu". Gimana menurut mas Rex, seperti apa sih biar dalam bisnis kita bisa berinovasi dan menghasilkan hal yang luar biasa seperti Gojek.

Buset, nanyanya seperti salah alamat ini "guman saya" haha, lah wong saya ajah ga kebayang bagaimana caranya gojek bisa menjadi sebesar itu dan setinggi itu nilainya, istilahnya bukan level saya menjawabnya, belom competen haha.

Ngobrolin GoJek dalam konteks hari ini memang ga akan ada habisnya, satu kata Amazing Innovation, bagaimana tidak, dalam waktu singkat Gojek menjadi penyedian layanan ojek terbesar di dunia,m layanan antar makanan yang katanya juga terbesar di dunia sampai menjadi salah satu Unicorn Startup di indonesia (unicorn, valuasi mencapai 1.2M $ atau kurang lebih 15 Triliun rupiah).

Nah balik lagi pertanyaan bagaimana menurut saya? Saya tidak akan menjawab bagaimana Gojek tentunya karena keterbatasan informasi berkaitan dengan strategi inovasi yang dilakukan oleh gojek, tapi izinkan saya sharing dari sisi pendapat pribadi saya base on bisnis yang sudah pernah saya jalankan tentang bagaimana caranya kita berinovasi dan menghasilkan hal yang "luar biasa" dalam konteks bisnis yang kita jalankan.

By the way sebelum How melakukan inovasi, sedikit kita singgung apa sih Inovasi itu? nah ini jangan salah kaprah yah, tidak semua hal yang "baru" atau "Keren" atau "Wow" bisa dibilang sebuah inovasi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi (menurut beberapa devinisi para ahli) sebuah ide. gagasan atau penemuan bisa dikatakan sebuah inovasi. apa ajah berikut dalam point singkat (maybe next time kita bahas yah)


  • Implementasi sesuatu yang "baru" bagi perusahaan dan konsumen
  • Ada efek "wow" terhadap ide, gagasan atau penemuan tersebut
  • Relevan dengan focus dan arah bisnis perusahaan
  • Nilai tambah kepada konsumen dalam memenuhi need, want dan expectation
  • Nilai tambah kepada perusahaan dalam bentuk nama baik, omset, profit dan nilai perusahaan
  • Sustain dalam jangka panjang ide, gagasan atau penemuan tersebut

Ok kembali lagi bagaimana (How) kita bisa menciptakan INOVASI dalam bisnis kita?

1. Lihatlah insight apa yang dibutuhkan banyak orang

Banyak bukan yang butuh jasa transportasi? Butuh dibeliin makan ga pake repot dan bisa dimana ajah yang kita inginkan? Butuh mobil box buat antar dan pindah barang? Butuh jasa antar-antar dokumen? atau banyak tidak orang yang butuh penginapan murah? Bisa di booking kapan ajah lewat online di belahan bumi manapun? Menginap sesuai budget yang kita inginkan?

Yah semua hal di atas itu adalah Insight, sesuatu yang ditangkap oleh pemilik bisnis menjadi masalah bagi banyak orang yang artinya "masalah" ini adalah peluang bisnis yang luar biasa untuk bisa digarap dan dari sanalah akhirnya muncul Gojek atau airbnb.

2. Cari solusi untuk kebutuhan tersebut

Permasalahan adalah sumber utama menciptakan inovasi, mengapa? Dari permasalahan kita bisa menciptakan Solusi = Inovasi sejauh memenuhi 6 kriteria Inovasi. Gojek = Solusi. airbnb = solusi. youtube = solusi. warunk upnormal = solusi.

Masalah membutuhkan solusi artinya jika solusi ini menjawab masalah dan menjadi sebuah bisnis besar, itulah inovasi.

3. Beri nilai tambah dari yang sudah ada saat ini

Ojek, apakah sebuah Inovasi? jaman sekarang yah tentu bukan sebuah inovasi, di semua daerah juga ada ojek yang digunakan untuk berbagai keperluan, ketika Ojek diberi nilai tambah (Brand + Aplikasi Online + Community + Payment Sistem + Fasilitas) jadilah Gojek + Inovasi.

Artinya, kita bisa menciptakan inovasi melalui pemberian nilai tambah yang punya impact terhadap konsumen dan perusahaan tentunya dan nilai tambah ini memang DIAKUI oleh konsumen, artinya digunakan dan menjadi bagian hidup dari konsumen serta juga memberikan hasil seperti yang diharapkan oleh perusahaan, soh jika ada perusahaan yang heboh, dibahas di sana-sini, konsumen rame-rame menggunakan tapi kemudian dalam 6 bulan - 1 tahun menghilang ditelan bumi apakah hal tersebut layakan dilabeli Inovasi?

Jadi kembali lagi ke pertanyaan di awal tentang bagaimana kita bisa berinovasi di dalam bisnis, Problem + Insight + Solution + Value Added.

Semoga bermanfaat.

Sedikit berbagi ilmu, dari beberapa pakar yang saya baca, tentang definisi Inovasi, berikut garis besar yang saya bisa rangkum.

Inovasi
Ide, gagasan atau Penemuan yang memberikan nilai tambah kepada konsumen, perusahaan dan masyarakat.


sumber : http://creasionbrand.blogspot.co.id/2016/11/inovasi.html


Hehe judul sudah cukup verbal bukan, dan ini sesuatu yang sangat lazim terjadi di dunia bisnis, BANYAK KELUARGA di dalam bisnis. Salah? Yah tentu saja tidak salah, kenapa harus salah? Asal keluarga yang berkerja di dalam perusahaan bekerja secara professional dan sesuai dengan aturan perusahaan.

Masalahnnya .....? hehe, yah pada prateknya keluarga yang berkerja di dalam perusahaan sering kali menjadi sumber masalah yang sulit untuk ditangani mulai dari karena orang tersebut kebetulan juga pemegang saham keluarganya, kurang kompeten dalam pekerjaan, unsur enak tidak enak di level management untuk memberikan teguran yang biasa diterapkan di karyawan non keluarga atau prilaku yang terpaksa "dimaklumi" karena .... "yah ga enak lah keluarga sendiri".

Hal ini jika dibiarkan dalam jangka panjang malah akan menjadi potensi yang membuat perusahaan kita malah menjadi tidak produktif, tidak berjalan secara profesional dan yang paling buruk kemungkinan yang bisa terjadi malah mejadi bumerang perpecahan yang punya impak buruk terhadap perusahaan di masa yang akan datang, rasanya jika harus memberikan contoh cukup banyak bisnis yang akhirnya pecah dan berakhir dengan keributan keluarga, either itu bisnisnya masih terus jalan dengan rusaknya hubungan keluarga atau bahkan bisnisnya bubar akibat keluarga.

Namun disisi lain tidak kita pungkiri bahwa Keluarga juga menjadi faktor competitive advantage yang sangat sulit ditiru jikalau mereka memang berkerja secara professional, punya kompetensi kerja yang tinggi, loyalitas yang luar biasa serta dedikasi yang sulit ditemukan di level karyawan non keluarga pada umumnnya, dan satu hal yang juga sangat penting keluarga bisa DIPERCAYA, jargon yang sudah lama ada dan hidup di dalam dunia bisnis.

Jadi, bagaimana kita membangun bisnis yang Banyak keluarga di dalamnya?

1. Competence di Bidangnya


Ini point amat sangat penting, jika kita memutuskan bahwa dalam bisnis kita, kita ingin melibatkan keluarga maka tempatkanlah orang yang tepat pada posisi yang tepat sesuai dengan kompetensinya. Jika tidak? JANGAN DITERIMA. Biasanya ini sumber masalah ke depannya, menempatkan keluarga yang tidak kompeten di bidangnya, masalah cepat atau lambat akan muncul dan ketika sudah muncul energi dan usaha untuk membereskan akan menyita waktu kita tentunya.

2. Bersikap Professional

Tegaskan sedari dari awal menerima keluarga di bisnis kita bahwa semua hal dilakukan secara PROFESIONAL. Yah tidak ada pengecualian seperti halnya kita menerima karyawan pada umumnya, dan sikap professional ini juga harus ada di dalam diri kita terhadap keluarga kita tersebut. Tidak ada istilah keluarga terus bisa absen dan libur seenaknya, mentang-mentang keluarg tidak kirim report kerja dibiarkan, BIG NO NO. Be Professional, both of you.

3. Target kerja dan Evaluasi yang jelas

Seperti hal nya setiap orang yang berkerjas di dalam perusahaan, setelah bekerja, tidak ada lagi istilah keluarga, all of our families are employee of this company, punya target kerja, punya tekanan kerja dan bisa dievaluasi sampai dipecat jika tidak memenuhi target kerja dan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh perusahaan. Ini pada prateknya akan cukup susah loh saya remind ajah, satu tips penting untuk ini adalah Target Kerja dan Evaluasi tertulis dengan jelas dan ditanda tangani sejak awal dan komitmen dilaksanakan oleh kita yang melakukan evaluasi.

Mungkin temen-temen yang membaca juga penasaran ingin bertanya, jika menurut saya bagaimana? To be honest, saya mendukung bisnis yang di dalamnya banyak keluarga sejauh memenuhi unsur-unsur yang kita bahas di atas, perusahaan dapat berkembang dengan lebih cepat dan kembali lagi, tidak mudah membangun kepercayaan + komitmen + dedikasi kepada orang yang ada di dalam perusahaan, namun hal ini akan lebih mudah jika ada keluarga di dalamnya.


Semoga Bermanfaat.

sumber : http://creasionbrand.blogspot.co.id/2017/01/perusahaan-banyak-keluarga.html

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget